https://wa.me/c/6281293372093

Keluarga dan sahabat, baru saja melepas keberangkatan kita. Semuanya mendoakan agar kita selamat di perjalanan, bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna, dan pada saatnya pulang dengan membawa haji mabrur, sehingga akhlak kita semakin cantik.

Di Back Up Allah

Tadi, saat melangkah keluar dari rumah, kita telah kibarkan bendera tawakkal. Yaitu dengan menyatakan:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلاَّ بِاللهِ

“BISMILLAH, TAWAKKALTU ‘ALALLAH, WALA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Yang artinya: “Dengan nama Allah. Aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Dengan tawakkal, berarti kita telah menyandarkan segala urusan kita kepada Allah. Dengan begitu, kita pasti dibimbing (dipernah-pernahkan) oleh Allah. Tidak hanya dengan kekuatan hamba yang lemah ini, melainkan di back up oleh kekuatan Allah. Itu sudah menjadi janjiNya, sebagaimana tersurat dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dia (Allah) lah yang mencukupinya” (Qs. At-thalaq/65: 3). Oleh sebab itu, jangan sekali-kali membanggakan kehebatan dan kekuatan diri. Karena, seseorang tidak akan mampu berbuat apa-apa kalau tidak ditolong Allah. Selayaknya kita memohon, “Ya Allah, kasih sayangMu-lah yang kami harap. Jangan biarkan kami tanpa pertolonganMu walau sekejap mata”.

Baik Sangka

Tidak ada satupun alasan untuk berburuk sangka kepada Allah. Bukankah Dia yang jelas-jelas Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Allah tidak akan berlaku zalim sekecil apapun kepada hambaNya, karena Ia Maha Adil. Lalu apa yang kita khawatirkan? Mungkin (bahkan pasti) kita punya banyak dosa. Lalu kita takut dipermalukan di tanah suci? karena dosa-dosa yang pernah kita lakukan di tanah air? Lho…! Itu buruk sangka namanya. Itu buruk sangka kepada Allah. Ayo istighfar…! Berburuk sangka kepada sesama saja tidak boleh, apalagi berburuk sangka kepada Allah.

Berbaik sangka-lah, karena Allah sangat memperhatikan sangkaan kita kepadaNya. Sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang mau bertaubat kepada Allah. Dan selagi kita mau bertaubat, pastilah Allah mencintai dan menyayangi kita. Maka perbanyaklah taubat kepadaNya dengan sungguh-sungguh, karena:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri” (Qs. Al-Baqarah/2:222).

Curhat-lah kepada Allah. Akui dosa-dosa kita di hadapanNya, dan mohon ampunlah kepadanya.

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (Qs. Al-Hujurat/49: 12).

Sudah Dapat Haji

Berdasarkan sensus, ternyata lebih banyak orang yang meninggal di rumahnya dibanding di perjalanan. Anehnya, mengapa banyak orang yang takut meninggal di perjalanan dan tidak takut meniggal di tempat tidurnya? Umur merupakan rahasia dari takdir Allah. Tidak bisa dimajukan atau ditunda. Yang penting, gunakan setiap kesempatan untuk berbuat baik.

Selamat jalan, wahai para tamu Allah…! Bagaimana kalau ada yang meninggal dalam perjalanan atau saat masih menunggu di tanah suci sebelum melaksanakan haji? Jawabnya, ia telah mendapatkan pahala haji dengan utuh, karena ia sudah menempuh perjalanan untuk menunaikannya. Al-Qur’an menegaskan:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. An-Nisa/4: 100).

(Dikutip dari buku DIARY PERJALANAN HAJI Karya Arwani Amin) https://wa.me/c/6281293372093