PENTINGNYA TAZKIYATUN-NAFS – Arwani Amin Supar

Pentingnya Tazkiyatunnafs
أَهَمِّيَّةُ تَزْكِيَةِ النَّفْسِ

Setelah kita memehami pengertian tazkiyatunnaafs, rukunnya dan esensinya sebagaimana dibahas pada buletin Nurul Ihsan pekan lalu, kita perlu memahami ahammiyah atau urgensinya. Setidaknya, lima poin berikut ini akan memberikan gambaran betapa pentingya tazkiyatunnafs. Yaitu:

1. Tugas Para Rasul مُهِمَّةُ الْمُرْسَلِيْنَ
Allah swt mengutus para rasulNya untuk mengajak umat melakukan tazkiyatunnafs atau menyucikan jiwa. Mengajak untuk membersihkan jiwa (takhliyah) dari syirik, dan menghiasinya (tahliyah) dengan tauhid. “Dan sungguh telah Kami utus rasul pada setiap umat (agar mnyeru umatnya) ‘Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)’ “ (Qs. An-nahl/16: 36).
Ketika Allah memerintahkan nabi Musa as untuk mendakwahi Fir’aun, maka yang mula pertama diserukannya adalah ajakan tazjiyatunnafs.
اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى . فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى .وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى
“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Lalu katakanlah: ‘Maukah engkau menyucikan jiwa? Dan aku tunjukkan engkau kepada Tuhanmu supaya engkau takut (kepadaNya)?’ ” (Qs. An-nazi’at/: 17-19).
Hingga rasul terakhir, yaitu nabi Muhammad saw, diantara tugas utamanya adalah membimbing umatnya agar memiliki jiwa yang bersih sehingga ilmu yang diterimanya berbuah amal shalih, bukan hanya berputar-putar pada logos yang tidak memberi manfaat apapun. Allah swt berfirman:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus di tengah kalian seorang rasul dari kalangan kalian. Ia membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian, men-tazkiyah kalian, mengajarkan kitab dan hikmah kepada kalian, dan mengajarkan kepada kalian apa yang sebelumnya tidak kalian ketahui” (Qs. Al-baqarah/2: 151).

2. Buah Ibadah ثَمْرَةُ الْعِبَادَاتِ
Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Dengan demikian, hidup tanpa ibadah berarti berjalan tanpa tujuan, alias luntang-lantung. Ada pilar-pilar ibadah yang diwajibkan Allah yang menjadi pilar-pilar Islam. Yaitu, setelah syahadat adalah shalat, puasa, zakat dan haji. Bila ditunaikan dengan ihsan, maka amal-amal ibadah tersebut akan membuahkan kesucian jiwa dan kemuliaan akhlak.
Tentang shalat, misalnya, Allah swt berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Dan tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (Qs. Al-ankabut/29: 45).
Bukankah terhindar dari perbuatan keji dan munkar merupakan kemualiaan akhlak sebagai wujud riil dari kebersihan jiwa?
Tentang puasa, Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa” (Qs. Al-baqarah/2: 183).
Taqwa itu meliputi dua sisi. Sisi kebersihan dari akhlak dan perilaku tercela dengan menjauhi larangan-larangan Allah, dan sisi penghiasan diri dengan akhlak mulia dan perbuatan baik dengan cara menjalankan perintah-perintah Allah. Bukankah terwujudnya kedua sisi tersebut merupakan esensi tazkiyatunnafs?
Begitu juga dengan zakat. Buahnya adalah kebersihan dan kesucian. Allah swt berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
“Pungutlah shadaqah (zakat0 dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka dengannya” (Qs. At-Taubah/9: 103).
Bagi orang yang membayar zakat / muzakki, hatinya dibersihkan dari ketamakan dan kebakhilan. Hartanya dibersihkan dari hak orang lain yang terdapat di dalamnya. Demikian pula dengan para mustahiq / penerima zakat. Hati mereka juga dibersihkan dari kebencian kepada orang-orang yang diberi kelimpahan rizki oleh Allah karena terjalin hubungan kasih sayang melalui zakat. Subhanallah…! Suci bersih bagi muzakki, suci bersih bagi harta yang dizakati, dan suci bersih bagi mustahiq. Sungguh…! Ibadah itu menyucikan jiwa.
Berikutnya adalah ibadah haji. Buah yang dihasilkannya adalah kebersihan jiwa yang tampak dalam perilaku mulia. Inilah yang bisa kita pahami dari pengkondisian selama pelaksanaan ibadah haji untuk menjauhi kata-kata kotor atau jorok, menjauhi perilaku fasik dan perdebatan.
Allah swt berfirman:
فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk menunaikan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (Qs. Al-baqarah/2: 197).
Kesimpulannya, semua syiar-syiar ibadah yang diperintahkan Allah bermuara pada tazkiyatunnafs.

3. Pangkal Keberuntungan Dunia Akhirat مَنَاطُ الْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah iman dan Islam. Disamping itu, pada dirinya juga terdapat potensi untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Oleh karena itu, ia perlu mengasah kecenderungannya untuk berbuat baik dan membiasakannya agar semakin kuat dan dominan. Bukan membiarkan dirinya dikuasai oleh bisikan-bisakan buruk yang akan menjerumuskan ke jurang kehinaan.
Allah swt berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan / mentazkiyah (jiwa) nya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya” (As-Syams/91 : 9-10).
Jadi, kebahagiaan dan keberuntungan kita sangat tergantung pada seberapa kita menyucikan atau mentazkiyah jiwa kita. Inilah diantara sebabnya mengapa tazkiyatunnafs menjadi penting. Tazkiyah itu membuahkan keberuntungan dan kemenangan atau al-falah. Sehingga, paling tidak, dalam sehari semalam kita dipanggil sebanyak 15 kali dengan panggilan “Hayya ‘alal-falah” melalui adzan dan iqomah.

4. Sebab Keselamatan dari Neraka سَبَبُ النَّجَاةِ مِنَ النَّارِ
Semua bencana dan kesengsaraan yang pernah dialami oleh seluruh manusia selama hidup di dunia, bila digabungkan menjadi satu, belumlah apa-apa dibandingkan pedihnya siksa api neraka. Benarlah orang yang mengatakan bahwa segala bencana asal bukan siksa neraka itu masih terhitung selamat. Dan sepanjang bisa masuk surga, maka segala persoalan bukanlah masalah. Lalu, siapakah yang akan diselamatkan dari api neraka? Dia adalah setiap orang yang menyucikan diri.
Allah swt berfirman:
وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى . الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى
“Dan orang yang paling taqwa akan dijauhkan darinya (neraka), yang memberikan hartanya (di jalan allah) untuk menyucikan diri”(Qs. Al-Lail/92: 17-18).

5. Sebab Masuk Surga سَبَبُ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ
Hidup terus tidak akan mengalami kematian lagi. Muda terus tidak akan mengalami penuaan. Berlimpah nikmat tiada sengsara. Itulah surga. Untuk siapa? Balasan untuk siapa? Untuk orang yang mentazkiyah diri.
Allah swt berfirman:
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى . جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى
“Dan siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat yang tinggi (mulia). Yaitu surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang menyucikan diri” (Qs. Thaha/ 20: 75-76).

Itulah pentingnya Tazkiyatun-Nafs, sehingga nabi saw berdoa kepada Allah swt agar dijaga kesucian hatinya. Doanya:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أنتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أنتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
“Ya Allah, anugerahkanlah ketaqwaan pada jiwaku. Sucikanlah ia karena Engkau-lah sebaik-baik yang mentazkiyahnya. Engkau-lah Penguasa dan Tuannya” (Hr. Muslim 2722).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *