MENYUCIKAN JIWA – Arwani Amin Supar

1. Makna Tazkiyatun-Nafs

– Arti Bahasa

Ungkapan “Menyucikan Jiwa” merupakan terjemah harfiah dari “Tazkiyatun-Nafs” yang terdiri dari dua kata, yaitu kata “Tazkiyah” dan kata”Nafs”. Secara etimologi, kata “Tazkiyah” bermakna “Menyucikan” (tathhir) dan “Memperbaiki” (ishlah).

Sedangkan kata “Nafs”, ia memiliki beberapa makna. Ia bermakna “Ruh” atau nyawa yang menjadi sebab adanya kehidupan pada badan. Ia juga bermakna “Manusia” seperti terdapat dalam firman allah swt:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap orang / nafs bertanggung jawab ata apa yang ia usahakan / perbuat” (Qs. Al-Muddatstsir: 38).
Ia juga bermakna unsur ruhani yang terdapat pada diri manusia, yang dengannya ia bisa memahami sesuatu dan memilih sikap dan tindakan yang ia kehendaki. Makna terakhir inilah yang kita maksud dalam pembahasan ini. Gabungan dari kedua kata menjadi “Tazkiyatun-nafs” yang berarti menyucikan jiwa atau ruhani.

– Arti Istilah

Syekh Muhammad Al-Ghazali menjelaskan pengertian tazkiyatun-nafs sebagai berikut:
فتزكية النّفس هي التّربية، وكلّ أمّة لا تربّي لا خير فيها. وهي تكميل النّفس الإنسانيّة بقمع أهوائها وإطلاق خصائصها العليا.
“Tazkiyatun-nafs adalah TARBIYAH. Setiap umat yang tidak men-tarbiyah, maka tidak ada kebaikan padanya. Yaitu: menyempurnakan jiwa manusia dengan mengendalikan hawa nafsunya dan melepaskan (melejitkan) keistimewaan-keistimewaan tertingginya”

2. Pilar Tazkiyatun-Nafs

Tazkiyatun-Nafs dibangun di atas dua rukun atau pilar utama. Yaitu TAKHLIYAH dan TAHLIYAH. Tanpa kedua pilar tersebut, maka ia tidak akan tegak dan tidak akan berhasil mencapai tujuannya.

Dalam hal ini, pada kajian rutin tazkiyatun-nafs di masjid Agung Darus-Salam cilacap pernah saya tuliskan sebagai berikut:

وهي تقوم على ركنين أساسيّين: الأوّل التّخلية عن المعاصي وسيّئات الأخلاق ومساوئ العادات. والثّاني التّحلية بالطّاعات ومكارم الأخلاق ومحاسن العادات

“Ia (tazkiyatun-nafs) tegak di atas dua rukun / pilar pokok. Pertama TAKHLIYAH, yaitu membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat, keburukan-keburukan akhlak, dan kebiasaan-kebiasaan jelek. Kedua TAHLIYAH, yaitu menghiasi diri dengan ketaatan (kepada allah dan rasulNya), akhlak mulia dan kebiasaan yang baik”

Berkaitan dengan hal ini, maka dalam menafsirkan firman Allah swt:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa)” (Qs. As-Syams: 9).
Imam Ibnu Katsir mengatakan:
قد أفلح من زكّى نفسه بطاعة الله، وطهّرها من الأخلاق الدّنيئة والرّذائل
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya dengan ketaatan kepada Allah, dan membersihkannya dari akhlak rendah dan perbuatan-perbuatan tercela”

Lebih mendasar lagi, bahwa keimanan seseorang tidaklah sah kecuali dibangun diatas pilar Takhliyah dan Tahliyah sekaligus. Yaitu takhliyah dengan membersihkan jiwa dari segala ketuhanan atau sesembahan, dan tahliyah atau menghiasi jiwa dengan penghambaan hanya kepada Allah. Lailaha, ini takhliyah alias pembersihan. Sedangkan illallah adalah tahliyah / penghiasan, yaitu menghiasi jiwa dengan penghambaan hanya kepada Allah saja.

3. Esensi Tazkiyatun-Nafs

Proses tazkiyatun-nafs yang kita lakukan dan kita tingkatkan dari waktu ke waktu tidak boleh kehilangan inti atau esensinya. Yang demikian itu agar tidak hanya berhenti pada syiar-syiar ritual tanpa mengindahkan makna dan kemuliaan akhlak yang hendak nya terwujud bersamanya.

Syekh Muhammad Al-Ghazali telah menjelaskan esensi dari proses tazkiyatun-nafs secara gambalang dengan tahapan-tahapan pendakiannya. Ia mengatakan:

الارتقاء بالنّفس درجة درجة، من السيّئ إلى الحسن، ثم ترقّيها في مراتب الحسن والصّفاء، حتّى تبلغ أعلى المستويات الإنسانيّة وأسماها، فتتحوّل من نفس أمّارة بالسّوء أو لوّامة إلى نفس مطمئنّة راضية عن ذاتها مرضيّة عند مولاها وربّها

“Yaitu membawa jiwa meningkat setahap demi setahap, dari yang buruk menuju yang baik, kemudian mendaki naik pada peringkat-peringkat kebaikan dan kejernihan, hingga mencapai tingkatan kemanusiaan tertinggi dan termulia. Berubah dari jiwa yang selalu menyuruh kepada keburukan (ammarah) atau jiwa yang suka mencela dan menyesali (lawwamah) menujia jiwa yang tentram (muthmainnah) yang ridha terhadap dirinya dan diridhai Tuan dan Tuhannya”.

4. Prioritas Tazkiyatun-Nafs

Kita perlu memahami hal-hal yang menjadi prioritas utama dalam tazkiyatun-nafs. Bahwa semua yang dilarang oleh Allah dan rasulNya itu pasti buruk dan tercela. Dan oleh sebab itu, kita wajib membersihkan diri darinya. Ini yang disebut takhliyah sebagai mana yang telah disebutkan di atas. Namun perlu juga diketahui bahwa keburukan itu bertingkat-tingkat, larangan juga bertingkat-tingkat, dan dosa juga bertingkat-tingkat dari dosa besar hingga dosa kecil.

Keburukan yang mula pertama jiwa kita harus bersih darinya adalah adalah syirik besar, karena orang yang sampai meninggal dunia dalam keadaan masih belum meninggalkan syirik besar, maka ia tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah dan menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Inilah prioritas utama. Tidaklah mengherankan kalau nabi Muhammad saw selama 13 tahun berdakwah di Makkah lebih menfokuskan pada persoalan akidah dengan ajakan membersihkan dari dari syirik dan menghiasi diri dengan tauhid.

Dalam hal kebaikan juga bertingkat-tingkat. Ada perintah yang hukumnya wajib ada yang bersifat anjuran atau sunnah. Adapun perintah yang paling pokok dan kebaikan yang paling puncak adalah mentauhidkan ibadah hanya kepada Allah swt. Dengan demikian, kezaliman yang paling zalim adalah syirik, sedangkan keadilan yang paling adil adalah tauhid. Hal ini tercermin dari firman Allah swt:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Dan beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan janganlah menyekutukan sesuatu apapun kepadaNya” (Qs. An-nisa/4: 36)

Prioritas berikutnya adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah, kemudian diikuti dengan meninggalkan hal-hal yang makruh, dilanjutkan dengan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan meninggalkan apa yang diharamkan, maka hati menjadi hidup. Dengan meninggalkan hal yang makruh, hati menjadi kuat. Dan dengan meninggalkan hal yang tidak berguna, maka hati mendapatkan kebahagiannya.

Adapun dalam hal perintah, setelah kita bertauhid sebagai prioritas utama, maka berikutnya adalah mengerjakan apa yang diwajibkan Allah, kemudian diikuti dengan mengerjakan yang sunnah-sunnah, serta lebih mendahulukan yang keutamaannya lebih besar. Itulah cara kita untuk mendapatkan kecintaan Allah swt. Dalam hadits qudsiy disebutkan bahwa Allah swt berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal yang lebih aku cintai dibanding mengerjakan apa yang aku wajibkan kepadanya. Kemudian hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amal-amal sunnah, hingga Aku mencintainya….” (Hr. Bukhari 6502).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *