HAJI PERPISAHAN – Arwani Amin Supar

Haji Perpisahan

Dakwah Islam yang diemban nabi Muhammad saw Selasa 23 tahun telah menunjukkan buahnya. Masyarakat ber-peradaban baru telah terbentuk dengan kokohnya. Yaitu masyarakat merdeka yang hanya menghamba kepada Tuhannya. La ilaha illallah, tidak ada Tuhan yang haq selain Allah. Masyarakat yang menjadikan wahyu sebagai pemandu kehidupannya, dan menjadikan nabi Muhammad saw sebagai contoh riil dalam menerapkan dan memperjuangkannya. Masyarakat yang memadukan antara akhlak dan kekuatan, antara kasih sayang dan keadilan, serta antara agama dan negara.

Madinah menjadi pusat dakwah dan kekuasaan. Masa ketertindasan berganti menjadi masa keamanan dan pengayoman. Pertikaian didamaikan, perpecahan disatuhan, fitnah-fitnah dipadamkan, dan para perusak dilumpuhkan. Pada tahun 8 H, Makkah telah dibebaskan, dan kabilah-kabilah di jazirah Arab berdatangan menyatakan keislaman. Sungguh…! Allah telah menunjukkan hasil dari perjuangan panjang nabi bersama geneasi pilihan.

1. Hajjatul-Wada’

Pada tahun 10 H, nabi menyampaikan azam (tekad)nya untuk menunaikan ibadah haji. Umat dari berbagai penjuru menyambutnya dengan gembira dan bersiap-siap menunaikan haji bersamanya. Haji bersama nabi? Ya. Subhanallah…! Alangkah nikmatnya. Membayangkan saja sudah sedimikian bahagia, apatah lagi menjalaninya. Segeralah mendaftar haji, setidaknya umroh. Bukankah umroh di bulan Ramadhan itu menyamai keutamaan haji bersama nabi?

Bagi nabi, ibadah haji pada tahun 10 H ini merupakan haji beliau yang pertama. Yang demikian itu, karena Makkah -yang menjadi tempat pelaksanaannya- baru saja dibebaskan dari tangan kaum musyrikin pada tahun 8 H. Lalu mengapa disebut “Haji Perpisahan atau Hajjatul-Wada’?”. Karena sekitar tiga bulan selepas haji, nabi saw wafat. Sehingga itu menjadi haji terakhir bagi beliau atau haji perpisahan.

Shafiyyur-Rahman Al-Mubarak Furi menyebutkan bahwa jumlah jamaah yang ikut berhaji bersama nabi adalah sekitar 124.000 atau 144.000. Jumlah yang sangat besar. Belum pernah ada perkumpulan orang sebesar itu di jazirah Arab sebelumnya.

2. Jejak Perjalanan

Sabtu 26 Dzul-Qa’dah, usai shalat zhuhur berangkat dari Madinah. Sore harinya tiba di Dzil-Hulaifah atau yang sering disebut Bir Ali, dan bermalam di sana. Keesokan harinya, sebelum shalat zhuhur beliau mandi untuk ihramnya dan mengenakan parfum di badan. Setelah shalat zhuhur dua rakaat, beliau meniatkan umrah dan haji sekaligus (haji qiran).

Kemudian melanjutkan perjalanan hingga mendekati Makkah dan bermalam di Dzi-Thua. Keesokan harinya, hari Ahad 4 Dzul-Hijjah, beliau masuk Makkah setelah shalat shubuh dan mandi. Dengan demikian, perjalanan Madinah – Makkah ditempuh dalam tempo delapan hari. Setelah masuk masjidil-haram, menunaikan thawaf dan sa’i, beliau tidak tahallul. Artinya, masih dalam keadaan ihram karena beliau sudah membawa hadyu (hewan kurban) dari Madinah.  Sedangkan bagi jamaah yang tidak membawa hadyu, beliau perintahkan untuk tahallaul dari umrahnya, yakni menunaikan haji tamattu’.

Tanggal 8 Dzul-Hijjah, yang disebut hari tarwiyah, beliau bergerak menuju Mina. Tiba sebelum zhuhur dan bermalam di sana. Setelah terbit matahari keesokan harinya, yakni tanggal 9 Dzul-Hijjah, beliau bergerak menuju Arofah. Beliau menyampaikan khutbah di Arofah pada saat tergelincirnya matahari, dilanjut dengan menjama’ shalat zhuhur dan ashar.

Setelah matahari terbenam, beliau bergerak menuju Muzdalifah, menjama’ shalat maghrib dan isya’, serta mabit (bermalam) di sana. Paginya, tanggal 10 Dzul-Hijjah melanjutkan perjalanan menuju Mina. Sesampainya di Mina, melontar jumrah Aqobah, lalu memotong hewan hadyu (kurban) dan mencukur rambut sehingga lepas dari ihram (tahallul awal). Setelah itu, bergerak menuju Makkah dan menunaikan thawaf Ifadhah sehingga lepas total dari ihram (tahallul tsani).

Siang itu pula, beliau kembali ke Mina dan bermalam di sana hingga tanggal 13 Dzul-Hijjah, yang setiap harinya (tanggal 11, 12, dan 13)melontar jumrah Ula, Wustho dan Aqobah. Masing-masing dengan tuju kerikil. Selama di Mina, beliau menyampaikan khutbah dan pelajaran kepada para jamaah agar lebih memahami agamanya. Selesailah seluruh rangkaian manasik haji, dan beliau saw kembali ke Madinah untuk melanjutkan perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah.

3. Sempurnalah

Diantara petikan khutbah nabi saw saat wuquf di Arofah:

أيُّها النَّاسُ، اسمعوا قولي، فإنِّي لا أدري لعلِّي لا ألقاكم بعدَ عامي هذا، بِهذا الموقِفِ أبدًا

“Wahai sekalian manusia, dengarlah apa yang aku katakan. Karena sungguh saya tidak tahu, boleh jadi saya tidak bertemu dengan kalian lagi untuk selamanya, setelah tahun ini, di tempat ini.”  (Arrahiq Almakhtum)

إنَّ دماءَكم وأموالَم حرامٌ عليكم . كحرمةِ يومِكم هذا . في شهرِكم هذا . في بلدِكم هذا .

“Sesungguhnya darah (jiwa) dan harta kalian itu mulia (dilindungi), seperti mulianya hari kalian sekarang ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini….” (Hr. Muslim1218).

Selesai khutbah, turunlah firman Allah swt:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الإِسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini, Aku sempernakan untuk kalian, agama kalian. Aku cukupkan nikmatku atas kalian. Dan Aku ridhai Islam sebagai agama kalian” (Qs. Al-Maidah/5 : 3).

Mendengar ayat ini, maka Umar bin Khatthab ra menangis. Ketika ditanya: “Apa yang membuat engkau menangis?”. Ia menjawab: “Sesungguhnya tidaklah setelah kesempurnaan melainkan kekurangan” (Hr. Bukhari). Benar apa yang menjadi firasat Umar. Islam telah sempurna, dan nabi Muhammad saw telah tuntas mendakwahkannya. Pertanda bahwa ajal beliau sudah dekat. Bukankah wafat beliau merupakan kehilangan besar bagi para sahabat? Itulah makna “berkurang” yang kita pahami dari ungkapan Umar.

4. La Haroj

“La Haroj” berarti “tidak mengapa”, “tidak apa-apa”, “tak ada dosa”, “tak ada kesempitan” atau “boleh”.  Ungkapan ini disampaikan oleh rasulullah saw kepada para penanya yang mendahulukan atau mengakhirkan sebagian manasik haji pada hari nahar (tgl 10 dzul-hijjah), walaupun yang beliau lakukan adalah sebagai berikut secara berurutan. Pertama melontar jumroh Aqobah, kedua menyembelih hadyu, ketiga mencukur rambut kepala, dan keempat thawaf ifadhah.

Sebagai contoh, Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan bahwa rasulullah saw sedang berada dalam haji perpisahan. Orang-orang pun bertanya kepadanya. Seseorang bertanya: “Saya tidak tahu, maka saya mencukur rambut sebelum menyembelih”. Nabi saw menjawab:

: اذبَح ولا حرَجْ
“sembelihlah, dan tidak mengapa”.

Datang lagi yang lain lalu bertanya: “Saya tidak tahu, maka saya menyembelih unta sebelum melontar jumroh”. Beliau menjawab:

ارمِ ولا حرَجَ
“Melontarlah, dan tidak mengapa”.

Tidaklah beliau pada hari itu ditanya tentang sesuatu yang didahulukan atau diakhirkan melainkan beliau jawab:

افعَلْ ولا حرجَ
“lakukanlah, dan tidak mengapa’ (Hr. Bukhari 1736, dan Muslim 3152).

Ada pula yang bertanya: “Saya melakukan thawaf ifadhah sebelum melontar jumroh’. Nabi saw menjawab:

ارمِ ولا حرَجَ

“Lontarlah, dan tidak mengapa”. (Hr. Bukhari 1722). Lainnya lagi bertanya: “Saya baru melontar jumroh setelah masuk waktu sore”. Nabi saw menjawab:

لا حرَج
“Tidak mengapa”. (Hr. Abu Dawud (2018).

Begitulah kelonggaran yang diberikan oleh rasulullah saw kepada umatnya. Oleh sebab itu, dalam hal-hal yang bersifat pilihan variatif, atau dalam masalah-maslah khilafiah yang dibenarkan, kita tidak boleh memaksakan pilihan ijtihad seorang ulama yang kita ikuti kepada orang lain. Gamblangnya, seyakin apapapun kita dengan madzhab yang kita ikuti, janganlah kemudian memaksakannya kepada orang lain yang memilih madzhab yang berbeda dengan kita.

Sesungguhnya, khilafiyah dalam fiqih bukanlah sebab perpecahan. Buktinya, para pemuka madzhab sendiri saling mencintai satu sama lain, saling menghormati, bahkan hubungan guru-murid diantara mereka tetap terjalin. Imam Syafi’i belajar kepada Imam Malik, Imam Hambali belajar kepada Imam Syafi’i, dan dua nama yang disebut terakhir juga berguru kepada para ulama dari Madzhab Hanafi.

Lalu, apa yang menjadi sebab perpecahan? Penyebab utamanya adalah tidak dimilikinya akhlak mulia dan tidak diindahkannya adab-adab Islam. Kalau engkau menjumpai orang yang selalu bermuka masam dan hanya tersenyum kepada anggota kelompoknya saja, hanya disebabkan perbedaan pilihan madzhab fiqh, maka ketahuilah bahwa ia telah melanggar sunnah nabi yang memmerintahkan berwajah ceria terhadap sesama. Ia juga melenceng dari akhlak para ulama panutan. Mengambil perbedaan pendapat para ulama tapi tidak mengambil akhlak mereka dalam berbeda pendapat. Itulah penyebab utamanya.

5. Berkah Kekuasaan

Di awal-awal dakwah, Nabi Muhammad saw bersama umat Islam di Makkah diperlakukan semena-mena dan ditindas oleh para penguasa di sana. Tidaklah banyak yang masuk Islam. Hanya 40an orang pada tiga tahun pertama. Setelah itu, mendapat tekanan dan penindasan dari para penguasa Makkah, bahkan pembunuhan. Akibatnya, pertambahan sangat sedikit dan lamban. Kemudian, beliau perintahkan sebagian sahabat untuk berhijrah ke negeri Habasyah yang dipimpin oleh seorang raja yang adil. Yaitu raja Ashamah An-najasyi. Umat Islam yang berhijrah ke sana terlindungi, dan raja Najasyi pun masuk islam.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, nabi saw dan para sahabat di Makkah berhijrahlah ke Madinah. Di sini, beliau mulai memimpin negara dengan Piagam Madinah sebagai konstitusinya. Sepuluh tahun kemudian, yakni pada tahun 10 H, ada sekitar144.000 kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji bersama nabi. Itu belum ditambah jumlah kaum muslimin yang belum bisa berangkat tahun itu.

Itulah berkah kekuasaan. Negara yang dipimpin orang yang adil mampu memberikan jaminan keamanan. Dan negara yang mengemban misi dakwah mampu menghadirkan peradaban kemanusiaan yang rahmatan lil’alamin. Menjadi rahmat untuk semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *