SENYUM TERAKHIR RASULULLAH SAW By Arwani Amin

1. Haji Wada’

Di penghujung tahun 10 H, yaitu di bulan Dzul-Hijjah, rasulullah saw menunaikan ibadah haji. Diikuti oleh lebih dari 100.000 jama’ah dari berbegai penjuru. Mereka ingin menikmati haji bersama beliau yang sangat mereka cintai. Beliau pun menyampaikan pesan-pesan penting melalui khutbahnya. Di dalamnya terselip kalimat:

إِنِّى لاَ أَدْرِيْ لَعَلِّيْ لاَ أَلْقَاكُمْ بَعْدَ هَذَا

“Sesungguhnya aku tidak tahu, boleh jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian setelah ini” (Hr. Baihaqi). Benar. Itu adalah haji perpisahan atau haji wada’, yang merupakan haji beliau yang pertama dan terakhir sekaligus.

2. Melepas Mu’adz ke Yaman

Bbeberapa waktu kemudian, rasulullah saw mengutus Mu’adz untuk berda’wah ke Yaman, beliau melepasnya sambil berpesan: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya boleh jadi engkau tidak berjumpa lagi denganku setelah tahun ini. Maka engkau akan melewati kuburanku dan masjidku” (Hr. Al-Bazzar; Shahih). Pesan yang sangat mengharukan Mu’adz, dan membuatnya menagis atas perpisahan tersebut.

3. Sewaktu Sakit

Pada hari Senin 29 Shafar tahun 11 H, dalam perjalanan pulang dari mengantar janazah ke kuburan Baqi’, beliau merasakan sakit kepala dan panas tinggi. Hingga para sahabat melihat uap di atas sorban yang beliau kenakan sebagai pengikat kepala.

Sakit beliau berlangsung selama 13 atau 14 hari. Walaupun sedang sakit, beliau tetap menegakkan shalat lima waktu di masjid dan bertindak sebagai imam. Kecuali pada tiga hari terakhir setelah tidak sanggup lagi bangkit menuju masjid.
Pada hari Rabo, 5 hari sebelum wafat, beliau menyampaikan pesan-pesannya sambil duduk di atas mimbar di masjid nabawi. Lalu berdo’a:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِيْ وَثَنًا يُعْبَدُ

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah” (Hr. Malik).

Pada hari berikutnya, Kamis malam Jum’at, empat hari sebelum wafat, beliau mencoba bangkit untuk mengimami shalat isya’. Mencoba bangkit, lalu pingsan. Mencoba bangkit lagi, lalu pingsan. Mencoba bangkit lagi, lalu pingsan. Hingga tiga kali.

Beliau benar-benar sudah tidak sanggup untuk bangkit menuju masjid. Akhirnya beliau perintahkan Abu Bakr untuk menggantikannya sebagai imam. Hingga rasulullah wafat, Abu Bakar meng-imami shalat sebanyak tujuh belas kali. Yakni selama tiga hari, plus dua waktu shalat. Begitulah nabi kita memberi contoh.

4. Senyum Trakhir

Hari perpisahan pun tiba. Pada shalat shubuh hari itu, para sahabat menyaksikan rasulullah tersenyum ridha kepada mereka. Imam Bukhari meriwayatkan, ketika kaum muslimin sedang menunaikan shalat fajar, yang diimami Abu Bakr, pada hari Senin, mereka melihat surprise. Yaitu, rasulullah saw menyingkap tabir kamarnya, dan tersenyum memandangi mereka.

Abu Bakr pun mundur hendak masuk ke dalam shaf, karena menyangka rasulullah saw akan keluar menjadi imam shalat. Kaum muslimin-pun hampir-hampir membatalkan shalatnya, karena gembira ingin menyambut rasulullah. Tapi beliau memberi isyarat dengan tangannya, agar mereka melanjutkan shalatnya. Lalu beliau masuk kamar dan menutupkan kembali tabir kamarnya.

Rasulullah tersenyum ridha melihat para sahabatnya yang tertib menjaga shalat berjamaa’ah di masjid. Beliu ridha menyaksikan Abu Bakr sebagai imam mereka. Tidak ada yang menduga, bahwa itu adalah senyum perpisahan. Pada siang harinya, beliau menghembuskan nafas yang terakhir setelah menunaikan tugas kerasulan dengan sempurna. Hari itu adalah hari senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal, tahun 11 H. Dan umur beliau genap enam puluh tiga tahun, lebih empat hari.

Bagaimana dengan kita? Apakah di akhirat nanti, beliau juga akan tersenyum ridha kepada kita? dan mengakui kita sebagai umatnya? Serta mendapatkan syafaatnya? Untuk menjawabnya, kita pernu menengok kembali, bagaimana shalat jama’ah kita di masjid?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *