UTAMAKAN SAUDARAMU by Arwani Amin

Di saat kita sendiri membutuhkan, lalu kita masih bisa mendahulukan saudara kita, sikap mulia ini disebut itsar. Sikap itsar ini tidaklah muncul begitu saja tanpa sebab. Karena setiap perbuatan pasti berawal dari motivasi yang mendorongnya. Sehingga perilaku lahiriah bisa menunjukkan isi batin. Lalu suasana batin macam apa yang melahirkan sikap itsar?

Orang meu mengutamakan saudaranya karena ia mencintai sesama, karena ia senang melihat orang lain berbahagia, karena ia yakin akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari Allah, karena ingin menjalani hidup penuh kebahagiaan, dan di akhirat nanti ingin menjadi orang yang beruntung.

1. Generasi Terbaik
Generasi sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Mereka adalah generasi pilihan yang setia berjuang bersama rasulullah saw dalam suka dan duka, dalam keadaan mudah dan sulit, serta dalam keadaan lapang dan sempit. Antara kaum muhajirin dan kaum anshar tidak ada hubungan sanak atau famili. Tapi mereka telah disatukan oleh ikatan yang paling kuat, yaitu ikatan iman la ilaha illallah. Sehingga mereka saling mencintai dan saling mendahulukan kepentingan saudaranya.

Melalui firmanNya dalam alqur’an, Allah swt telah mengabadikan sikap itsar kaum Anshar dan kecintaan mereka kepada kaum muhajirin.

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan kaum anshar mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung” (Qs. Al-Hasyr/59: 9).

2. Apresiasi

Kaum Asy’ariyin dikenal memiliki sikap itsar dan solidaritas yang luar biasa. Kalau mereka kehabisan bekal dalam perang, atau makanan mereka di Madinah sudah menipis dan nyaris habis, maka mereka kumpulkan makanan yang mereka punya di satu tempat, lalu mereka bagi secara merata diantara mereka.

Pantas saja, kalau rasulullah saw memberikan apresiasi besar kepada mereka. Mereka memperolehh kedudukan yang sangat mulia di sisi rasulullah saw. beliau bersabda:

فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ

“Mereka itu bagian dariku, dan aku bagian dari mereka” (Hr. Bukhari dan Muslim).

3. Ada Gurunya

Abu Hurairah ra pada suatu hari sedang lapar-laparnya, tidak ada makanan. Di bawah terik panas matahari, ia berpapasan dengan rasulullah saw. Beliau tersenyum menatapnya, karena faham keadaannya, lalu mengajaknya ke rumah. “Ayo ikut saya”, Kata beliau.

Sesampai di rumah, beliau mengambil mangkok besar berisi susu, hadiah dari seseorang. Lalu menyuruh Abu Hurairah memanggil para sahabat yang tinggal di serambi masjid. Beliau tahu kalau Abu Hurairah sendiri sangat membutuhkan susu itu, tapi beliu ingin menempanya agar memiliki sikap itsar.

“Tolong ambilkan mangkok dan berikan minum kepada mereka”, Nabi menyuruh Abu Hurairah yang tentu khawatir tidak kebagian. Setelah semuanya minum, dan tinggal nabi bersama Abu Hurairah, beliau bersabda “Sekarang tinggal aku dan kamu , wahai Abu Hurairah”. “Benar, ya rasulallah”, jawabnya. “Duduk dan minumlah” kata beliau. Dan Abu Hurairah pun minum sampai kenyang. Sisanya, diminum oleh rasulullah. (Ringkasan Hr. Bukhari).

Beliu mendahulukan para sahabatnya, dan rela kenyang paling akhir.
Ya, ukhuwah islamiyah dan kecintaan terhadap sasama muslim itu ada tingkatannya. Tingkatan yang paling rendah adalah salamatus-shadr atau lapang dada. Sedangkan tingkatan yang tertinggi adalah itsar, yakni mengutamakan saudara kita. Diantara dua tingkatan itulah, kita bergerak.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *