AKHLAK KITA by Arwani Amin

Kalau ingin tahu tingkat keimanan seseorang, lihatlah akhlaknya. Baiknya akhlak pertanda kuatnya iman. Sebaliknya, buruknya akhlaq pertanda rapuhnya iman. Jadi, iman itu bukan sebatas klaim, melainkan keyakinan yang menghujam di dalam hati, dan dibuktikan dengan perilaku sehari-hari.

Lalu seperti apakah potret akhlaq mulia dalam pergaulan sehari-hari? Abdullah bin Mubarak, seorang ulama’ dari generasi tabi’in, menjelaskannya dalam tiga hal berikut.

1. Tidak Menjadi Gangguan

Kehadiran seorang muslim di tengah masyarakat memberi rasa aman dan ketentraman. Ia pantang mengusik kemanan harta dan jiwa orang lain. Rasulullah saw bersabda:

الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ

“Orang mukmin itu memberi rasa aman terhadap harta dan jiwa orang lain” (Hr. Ahmad).

Sebaliknya, Rasulullah saw menafikan keimanan orang yang menjadi sumber gangguan. Beliau bahkan pernah bersumpah: “Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman !”. Ketika ditanya: “Siapa ya rasulallah?”. Beliau menjawab: “Yaitu orang yang para tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Pernah, nabi saw melihat seseorang yang pakaiannya kotor, mungkin sudah lama belum dicuci. Nabi menyapanya “Apa tidak cukup air untuk mencuci?”. Pernah pula melihat seseorang yang rambutnya kusut tak terurus. Beliau menyapanya “Apa tidak punya sisir untuk merapikan rambut?”. Subhanallah…! Sedemikian besar perhatian nabi saw terhadap para sahabatnya, karena pakaian kotor dan rambut kusut membuat orang yang memandangnya tidak nyaman atau terganggu.

2. Berbagi Kebaikan

ambah-tambah kebahagiaannya, sering-seringlah berbuat baik kepada sesama. Tahukah kita siapa yang lebih berbahagia? Pihak yang membantu atau yang menerima bantuan? Orang yang kita bantu memang merasa senang. Kita yang membantu, ternyata merasa lebih senang lagi. Pemberi lebih berbahagia dibanding penerima. Sebaik-baik orang adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada sesama. Dan ia pula-lah orang yang paling berbahagia.

“Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?” Tanya rasulullah saw kepada para sahabat. Abu Bakr menjawab “Saya”. Rasul bertanya lagi “Siapa diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?”. Abu Bakr menjawab “Saya” . Rasul bertanya lagi “Siapa diantara kalian yang hari ini mengantarkan janazah?”. Abu Bakr menjawab “Saya”. Bertanya lagi “Siapa diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”. Abu Bakr menjawab “Saya”.

Kemudian rasulullah bersabda:

مَا اجْتَمَعَتْ هَذِهِ الْخِصَالُ قَطُّ فِيْ رَجُلٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Tidaklah keempat hal tersebut terkumpul pada diri seseorang, melainkan ia pasti masuk surga”. (Hr. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya). Semoga Allah meridhai Abu Bakr yang selalu berada di depan dalam kebaikan.

3. Wajah yang Ramah

Keceriaan wajah dan keramahan merupakan bahasa internasional lintas bangsa dan generasi. Semua orang bisa memahaminya, tanpa penerjemah. Keramahan wajah melebihi kefasihan kata marhaban, well come dan senang berjumpa Anda.

Segelas air putih yang disuguhkan dengan penuh keramahan, jauh lebih membahagiakan dibanding senampan buah yang disodorkan dengan muka masam dan keangkuhan. Mari kita saling mengikat janji dan membubuhkannya dalam prasasti “Wajah Ramah Berseri”. Sesibuk apapun, jangan pernah kehilangan keramahan.

Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئاً ، وَلَوْ أنْ تَلْقَى أخَاكَ بوَجْهٍ طَلْقٍ

“Jangan pernah Engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walau hanya berupa keramahan wajah, saat berjumpa saudaramu”. (Hr. Muslim).

Dengan wajah ramah dan berseri, berarti kita membahagiakan diri, menghormati dan menyenangkan orang lain, serta menggiring segala kesulitan menuju kemudahan. Itulah keramahan, yang menjadi merk wajah kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *