ARBAIN… ARBAIN…! By Arwani Amin

1. Arbain di Masjid Nabawi

Arbain berarti empat puluh. Bagi kita, para jama’ah haji dari Indonesia, shalat arbain di masjid nabawi termasuk paket perjalanan haji. Walaupun bukan bagian dari syarat, rukun dan wajib haji. Oleh karenanya, paling tidak kita akan tinggal di Madinah selama delapan hari , agar bisa melaksanakan shalat berjama’ah selama 40 waktu di masjid nabawi.

Tentang keutamaannya, rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى فِيْ مَسْجِدِيْ أَرْبَعِيْنَ صَلاَةً ، لاَ يَفُوْتُهُ صَلاَةٌ ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Siapa yang melaksanakan 40 kali shalat secara berturut-turut di masjidku ini (masjid nabawi), maka ia dicatat bebas dari neraka, selamat dari siksa dan bebas dari kemunafikan”. (Hr. Ahmad).

Terlepas dari penilaian sebagian peneliti hadits, seperti syeikh Albani yang menilai dha’if hadits ini, namun shalat jama’ah di masjid itu disyariatkan. Dan shalat di masjid nabawi lebih utama dibanding 1000 shalat di masjid lainnya (selain masjidil haram). Oleh sebab itu, kita tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.

2. Jagalah Shalat Jamaah

Ada seorang laki-laki sahabat nabi saw, yang usianya sudah tua, matanya buta, rumahnya agak jauh dari masjid, di jalan masih banyak terdapat pohon, dan terkadang binatang berbahaya, dan tidak punya penuntun jalan. Ia datang kepada rasulullah saw untuk minta dispensasi atau rukhsah. Rukhsah yang ia minta adalah izin melaksanakan shalat fardhu di rumah saja, tidak di masjid.
Mulanya rasulullah saw hendak memberi rukhsah. Tapi ketika sahabat tersebut hendak pulang, beliau bertanya:

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟

“Apakah engkau mendengar panggilan shalat?”. Ia jawab : “Ya”. Maka beliau bersabda:

فَأجِبْ

“Kalau begitu, maka datangilah” (Hr. Muslim).

Kalau seorang laki-laki buta masih tetap diperintahkan nabi untuk tetap melaksanakan shalat jamaah di masjid, dan tidak mengizinkannya shalat di rumah. Lalu bagaimana dengan kita? Adakah rukhsah bagi kita? Padahal badan kita sehat, penglihatan kita normal, dan rumah kita bertetangga dengan masjid?. Kalau toh agak jauh, kita bisa naik sepeda atau motor, bahkan banyak yang punya mobil pribadi.

3. Husnul Khatimah

Ketika ajal tiba pada waktunya nanti, tentu kita semua ingin mendapatkan kematian yang husnul khatimah. Atau pungkasan yang baik. “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenarnya. Dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaaan Islam” (Qs. Al-baqarah/ 2: 102).

Maukah kita mengamalkan resepnya? Resepnya adalah menjaga shalat lima waktu berjamaah di masjid. Resep ini diberikan oleh seorang sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Mas’ud. Ia mengatakan:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ

“Siapa yang ingin berjumpa Allah (meninggal dunia) besok dalam keadaan Islam, maka jagalah pelaksanaan shalat lima waktu di tempat mana dikumandangkan adzan (yakni masjid)” (Hr. Muslim).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *