JANJI AQOBAH KEDUA by Arwani Amin

Sudah genap setahun, Mush’ab bin Umair berada di Madinah. Ia menjalankan tugas dari rasulullah saw untuk berdakwah di sana. Baik membina para sahabat yang sudah beriman, maupun mengajak para pembesar suku dan kaumnya untuk memeluk Islam.

Dengan kegigihan dan metoda da’wah yang benar, para pembesar suku Aus masuk Islam bersama seluruh kaumnya. Peta demografi Madinah-pun berubah, kaum muslimin memiliki basis yang kuat dan mengakar di setiap suku.

1. Musim Haji Berikutnya

Dengan semakin besarnya jumlah umat Islam di Madinah, mereka ingin segara menemui kembali rasulullah saw. Ketika tiba musim haji tahun 13 setelah kenabian, berangkatlah 75 orang mewakili kaum muslim Madinah, untuk menemui beliau di Makkah. Mereka dipimpin Mush’ab bin Umair, sang delegasi dan da’i yang sukses menjalankan tugas dari rasulullah saw.

“Sampai kapan kita membiarkan rasulullah saw terancam keselamatannya di Makkah? Dan tidak bebas menyampaikan da’wahnya? Sementara kita hidup leluasa?”. Demikianlah perbincangan di kalangan para sahabat dari Madinah dalam perjalanan menuju Makkah. Mereka berpikir keras bagaimana rasulullah memperoleh perlindungan agar leluasa menyampaikan da’wahnya.

2. Butir-Butir Janji Aqobah Kedua

Setibanya di Makkah, Mush’ab langsung menjumpai rasulullah untuk menyampaikan laporan perkembangan da’wah di Madinah dan kedatangannya bersama 75 orangg. Beitulah kepatuhan seorang jundi atau prajurit kepada pemimpin yang dicintainya. Beliau melapor kepada rasulullah, sebelum bertemu dengan yang lain. Segeralah diatur waktu pertemuan. Akhirnya ditetapkan bahwa pertemuan dengan para sahabat dari Madinah akan berlangsung setelah lewat tengah malam, bertempat di Aqobah usai haji.

Dalam pertemuan itu, mereka meminta rasulullah untuk berpindah (hijrah) ke Madinah. Mereka berjanji setia kepada nabi untuk: 1. Mendengar dan taat, baik dalam keadaan giat maupun malas, 2. Berinfaq dalam keadaan sulit maupun longgar, 3. Beramar ma’ruf dan nahi munkar, 4. Berjuang di jalan Allah, tidak takut celaan orang yang mencela, 5. Membela nabi ketika telah berhijrah ke Madinah, dan melindunginya seperti melindungi diri sendiri, istri dan anak mereka sendiri.

Dengan komitmen di atas, apa imbalan yang akan mereka dapatkan? Nabi saw bersabda:

وَلَكُمُ الْجَنَّةُ

“Untuk kalian, surga” (Hr. Ahmad; Shahih).

Mereka merespon: “Ini transaksi yang menguntungkan. Kami tidak akan membatalkan dan tidak mau dibatalkan”. Perjanjian ini dikenal dengan bai’at Aqobah kedua.

3. Hijrah Dimulai

Sejak diadakannya perjanjian tersebut, rasulullah saw memerintahkan para sahabat untuk berhijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Secara berangsur-angsur, para sahabat pun mulai berhijrah. Kebanyakan mereka berhijrah secara rahasia agar tidak ada yang menghalangi. Sebagian lainnya berhijrah dengan terang-terangan, seperti Umar bin Khattab. Bahkan Umar menyempatkan thawaf mengelilingi ka’bah terlebih dahulu, lalu menyatakan “Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, atau anaknya menjadi yatim, atau ibunya kehilangan anak, silakan cegat Umar di balik lembah”.

Dzul-hijjah, Muharram, dan Shafar berlalu, dan datanglah bulan rabi’ul-Awal. Nabi Muhammad mendapat izin dari Allah untuk berhijrah. Beliau selamat dari percobaan pembunuhan oleh kaum kafir Qurays. Ditemani Abu Bakr ra, beliau bergerak menuju Madinah dan tiba di sana pada tanggal 12 Rabi’ul-awal tahun 1 H. Thala’al badru ‘alaina, selamat datang wahai bulan purnama penyuluh alam.

Dengan hijrahnya nabi ke Madinah, maka terbentuklah Negara Madinah. Wilayahnya meliputi keseluruhan Madinah. Penduduknya terdiri dari kaum muslimin (muhajirin dan anshar), kaum musyrikin dan kaum Yahudi. Konstitusinya piagam madinah, yang pelaksanaannya sejalan dengan alqur’an dan sunnah. Sedangkan rasulullah saw sebagai kepala negaranya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *