KETIKA AKU SAKIT by Arwani Amin

Siang dan malam, panas dan hujan, nikmat dan musibah merupakan siklus kehidupan yang telah ditakdirkan oleh Allah. Demikian pula dengan sehat dan sakit. Kita semua sama, pernah mengalaminya. Tapi cara menghadapi sakit, tentulah tidak sama. Buktinya, ada orang yang tetap enjoy di waktu sakit. Ada pula yang meronta sejadi-jadinya. 

Sakit tidak akan membuat Anda sengsara. “Delapan belas hari aku berbaring di rumah sakit akibat kecelakaan yang mematahkan kedua tulang pahaku. Demi Allah, itulah hari-hari dalam hidupku yang paling membahagiakan” tutur seorang pasien. Apa resepnya? Mengetahui resep tidak akan mengubah keadaan Anda, sampai Anda benar-benar menerapkannya. Silakan…!

1. Alhamdu lillah

Sakit bukanlah alasan untuk membungkam ucapan syukur. Satu gigi yang tanggal, janganlah membuat kita lupa mensyukuri 31 gigi lainnya yang masih tersisa. Kalau satu kaki diamputasi, lihatlah tiga anggota badan lainnya yang masih utuh, yaitu dua tangan dan satu kaki. Pujilah Allah, ucapkan alhamdu lillah, bahwa sakit Anda tidak lebih parah dari yang Anda alami. Di sana ada orang-orang yang sakitnya jauh lebih berat dibanding Anda. Bersyukurlah …! Karena sakit Anda lebih ringan. Alhamdu lillah.

Allah itu Maha terpuji dalam keadaan apapun, baik di kala senang maupun susah, dalam keadaan yang kita sukai maupun tidak. Aisyah ra mengatakan: “Apabila nabi saw melihat apa yang beliau sukai, maka beliau mengucap:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatNya, segala yang baik menjadi sempurna”. Dan apabila melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, maka mengucap:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan “ (Hr. Ibnu Majah; Hasan).

Alhamdulillah, di waktu sakit, seseorang menjadi lebih dekat dengan keluarga, ditengok dan didoakan oleh handai tolan, dan mendapat simpati dari banyak orang. Hal mana tidak ia rasakan di kala sehat bugar. Jadi, selalu ada nikmat yang kita syukuri.

2. Inna lillah

Sesungguhnya kita ini milik Allah, inna lillah. Dan sesungguhnya kepadaNya-lah kita akan kembali, wa inna ilahi raji’un. Ucapan ini disebut istirja’ yang merupakan landasan filosofi kesabaran. Sekujur tubuh kita, dari ujung rambut sampai ujung kuku adalah milik Allah. Apa yang Allah ambil dari kita, adalah milikNya. Dan apa yang masih disisakan bersama kita juga milikNya. Semuanya ada batas waktu yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, sabar adalah pilihan cerdas. Kalau tidak sabar, lalu mau apa?

Rasulullah saw bersabda:

اَلصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Sabar itu pelita” (Hr. Muslim)

Sikap sabar menjadi pelita penghangat jiwa, pelita yang membuat pikiran tetap cemerlang, pelita sebagai sumber energi positif yang mengembangkan senyuman, dan memancarkan kebahagiaan dalam menjalani hari-hari sakit yang mengesankan.

3. Dosaku Rontok

Ada dosa-dosa kita yang diampuni oleh Allah, bukan lantaran kita minta ampun, bukan pula karena dimintakan ampun oleh anak kita atau oleh sesama muslim. Lalu? Lantaran apa? Lantaran Allah menimpakan musibah atau penyakit kepada kita. Jadi, mau tidak mau, dosa kita diampuni Allah. Allahu Akbar. Wah, beruntung sekali. Dengan demikian, tidak ada untuk alasan berkeluh kesah atau meronta-ronta di kala sakit.

Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى , إِلَّا حَاتَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطَايَاهُ ,كَمَا تَحَاتُّ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa gannguan / penyakit, melainkan Allah jadikan dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun pohon berguguran” (Hr. Bukhari).

Allah menganugerahkan sakit kepadamu, dan bersamaan dengan itu Allah menganugerahkan pula ampunan atas dosa-dosamu. Subhanallah…alangkah Pemurah dan Pengampunnya Allah.

4. Berbaring dapat Pahala

Biasanya melaksanakan shalat lima waktu di masjid dengan berjama’ah. Karena sakit dan terbaring di tempat tidur, maka shalatnya di rumah, tidak bisa ke masjid. Biasanya menjemput kawan-kawannya dengan mobilnya, untuk bersama-sama menghadiri kajian sabtu pagi di Pesantren Nurul Ihsan. Karena sedang sakit, maka harus istirahat di rumah, tidak bisa menjemput dan tidak bisa hadir.

Apakah ia kehilangan pahala amal di atas selama sakit dan terbaring di tempat tidurnya? Tidak. Sekali-kali tidak. Ia tetap memperoleh semua pahala amal yang biasa dilakukannya di waktu sehat itu secara utuh. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَرِضَ العَبْدُ أَوْ سَافَرَ , كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيماً صَحِيحاً

“Apabila seseorang sedang sakit atau bepergian, maka tetap ditulis untuknya seperti apa yang biasa dia amalkan sewaktu tidak bepergian dan sehat” (Hr. Bukhari).

5. Lisanku Basah dengan Dzikir

Di saat sakit, kita punya banyak waktu luang. Karena, untuk sementara, kita off dari berbagai aktifitas yang biasa menyibukkan kita. Aktifitas mana, tidak jarang menyebabkan kita kurang membaca alqur’an atau berdzikir kepada Allah.

Maka dari itu, kita manfaatkan peluang emas ini dengan sebaik-baiknya. Kita basahi lidah, bukan asal basah, melainkan basah dengan perkataan yang baik, karena perkataan yang baik itu bernilai shadaqah. Kita juga basahi lidah kita dengan dzikir kepada Allah.

Abdullah bin Busr ra meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki bertanya: “Ya rasulallah, sesungguhnya syari’at Islam telah banyak yang wajib aku amalkan, maka beritahukanlah kepada suatu amalan yang aku jadikan andalan”. Rasulullah saw menjawab:

لا يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Hendaknya lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah” (Hr. tirmidzi; Hasan).

6. Tetap Optimis

Ada dua hal yang membuat orang terpuruk, dan dua hal yang membuat orang bangkit. Dua hal yang membuat orang terpuruk adalah: menganggap sakitnya paling parah, dan menganggap hari esok akan semakin parah. Sedangkan dua hal yang membuat orang bangkit adalah: menyukuri bahwa sakitnya tidak lebih parah dibanding yang sedang ia alami, dan berharap akan mendapat kesembuhan.

Rasulullah saw sangat menyukai sikap optimis dan cara berpikir positif, karena setiap masalah itu ada pemecahannya, setiap kesulitan ada jalan keluarnya, dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Beliau bersabda:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, melainkan juga menurunkan obatnya” (Hr. Bukhari).

Dalam kesempatan lain beliau menganjurkan umatnya untuk berobat. Sabdanya:

تَدَاوَوْا عِبَادَ الله

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah” (Hr. ibnu Majah; Shahih).

Dengan kayikan bahwa setiap penyakit ada obatnya. Diantaranya ada yang sudah diketahui dan ada yang belum diketahui, tapi tetap terus dicari. Maka dari itu, seorang muslim tidak mengenal putus asa menghadapi penyakit. Ia selalu berusaha mendapatkan kesembuhan dengan cara yang halal, dan sesuai kemampuan yang dimilikinya. Semua itu dibalut dengan do’a penuh pengharapan kepada Allah, karena hanya Dia-lah yang kuasa memberi kesembuhan.

Nabi Ibrahim as mengatakan:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dia (Allah) lah yang menyembuhkanku” (Qs. As-syuara’/26: 80).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *