BAGUSKAN TILAWAHMU by Arwani Amin

Perintah membaca alqur’an dengan benar dan bagus bisa kita pahami dari firman Allah swt berikut ini:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

“Dan bacalah alqur’an dengan perlahan” (Qs. Al-Muzzammil/73: 4).

Yaitu dengan memperjelas bacaan huruf-hurufnya dan mengindahkan ketentuan cara membaca yang benar agar sesuai dengan bacaan yang pernah dicontohkan oleh nabi Muhammad saw.

Tahsin atau membaguskan tilawah merupakan langkah lanjutan setelah kita bisa membaca (tilawah) alqur’an. Dalam hal ini, kita perlu pembimbing atau setidaknya partner yang bisa mengoreksi kesalahan dan memberi contoh bacaan yang benar. Berdasarkan pengalaman, para imam masjid / mushalla yang tilawahnya belum bagus, maka bacaan surat-surat yang dihafalnya juga bermasalah , bahkan kadang-kadang bacaan fatihahnya saja belum pas. Untuk itu, perlu ada upaya untuk membaguskan tilawah secara berkelanjutan.

Allah sangat menyukai orang yang membaca alqur’an dengan bagus, terlebih dengan suara yang bagus pula. Rasulullah saw bersabda:

مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Sesuatu yang paling Allah suka dengarkan adalah nabi yang suaranya bagus, ia membaca alqur’an dengan indah dan nyaring” (Hr. Bukhari dan Muslim).

لَلَّهُ أَشَدُّ أَذَنًا إِلَى الرَّجُلِ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ مِنْ صَاحِبِ الْقَيْنَةِ إِلَى قَيْنَتِهِ

“Sungguh Allah lebih suka mendengarkan orang yang bagus suaranya membaca alqur’an dibanding sukanya seseorang mendengarkan penyanyinya” (Hr. Al-Hakim; shahih).

Keuntungan Membanguskan Tilawah:

1. Derajat Terangkat

Ini didasarkan pada sabda rasulullah saw:

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ

“Orang yang membaca alqur’an dengan mahir, ia setingkat dengan para malaikat yang mulia dan berbakti. Sedangkan orang yang membaca alqur’an dengan terbata-bata dan berat, ia mendapatkan dua pahala” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Yang mahir dan yang masih terbata-bata, kedua-duanya mendapatkan kebaikan. Bedanya, orang yang mahir derajatnya ditinggikan bersama para malaikat yang mulia dan taat, sedangkan orang yang terbata-bata memperoleh dua pahala. Ia mendapat pahala atas bacaaannya dan kesabarannya menekuni alqur’an. Yang perlu dingat adalah bahwa orang yang mahir pada mulanya juga terbata-bata. Ia tekun membaca dan berusaha membaguskannya hingga akhirnya mahir. Alhamdulillah.

2. Menjaga Keaslian Alqur’an

Allah swt telah menjamin bahwa alqur’an akan tetap selalu terjaga keasilannya. Ia berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan alqur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (Qs. Al-Hijr/15: 9).

Alqur’an terjaga keasliannya hingga dalam hal samar dan jelasnya pengucapan huruf, dengung dan tidaknya, tebal dan tipisnya, hingga washal dan waqafnya. Para ulama menjelaskan bahwa hukum membaca alqur’an dengan tajwid adalah wajib atau fardhu ‘ain bagi setiap orang. Sedangkan hukum mengetahui teori ilmu tajwid adalah fardhu kifayah, yakni di tengah umat harus selalu ada orang-orang yang memahaminya agar kaedah-kaedah bacaan yang benar tetap terjaga.

Baguskan tilawahmu agar engkau termasuk orang-orang yang dilibatkan Allah dalam menjaga keaslian alqur’an. Didalam matan aljazariyah disebutkan:

وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لاَزِمُ مَنْ لَمْ يُجَوْدِ الْقُرَآنَ آثِمُ

Menerapkan tajwid itu wajib dan niscaya
Siapa tidak mentajwidkan alqur’an, ia berdosa

لأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ

Karena dengan tajwid-lah Allah telah menurunkannya
Dan seperti itulah seterusnya sampai kepada kita dariNya.

3. Bisa Khatam Sesuai Standar

Idealnya kita mengkhatamkan bacaan alqur’an tidak lebih dari satu bulan. Walau ini tidak wajib, akan tetapi dianjurkan oleh rasulullah saw. Tentu untuk bisa mewujudkannya diperlukan tekad dan kelancaran bacaan. Oleh sebab itu, kita perlu melancarkan dan membaguskan tilawah kita agar bisa meraih keutamaan khatam alqur’an setiap bulan, sehingga amal kebaikan kita lebih berat dibanding dosa-dosa kita saat nanti ditimbang di akhirat.

Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah bin Amr:

اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ

“Bacalah alqur’an dalam satu bulan khatam”. Abdullah bin Umar tidak menawar menjadi dua bulan atau tiga bulan sekali khatam, melainkan menawar agar dizinkan untuk mengkhatamkan lebih cepat dari rentang waktu sebulan. Akhirnya nabi saw mengizinkan dan bersabda:

اقْرَأْهُ فِى ثَلاَثٍ

“Bacalah ia (alqur’an) dalam tiga hari khatam”. (Hr. Abu Dawud; Hasan Shahih). Baguskan tilawahmu dan kuatkan tekadmu agar bisa mengkhatamkan setidaknya sebulan sekali.

4. Mudah Melakukan Tadabbur

Upaya untuk memahami makna yang dikehendaki oleh ayat yang kita baca disebut tadabbur. Selanjutnya. Allah swt menurunkan alqur’an untuk kita tadabburi ayat-ayatnya, sehingga bisa mengambil pelajaran darinya sebagai petunjuk dalam kehidupan kita. Allah swt berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah kitab penuh berkah yang Kami turunkan kepadamu supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya, dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran bisa mengambil pelajaran”(Qs. Shad/38: 29). Bagaimana akan bisa melakukan tadabbur dengan baik sementara melafalkan hurufnya saja masih susah payah?

5. Bisa Mengajarkannya

Belajar dan mengajarkan alqur’an merupakan kemuliaan tersendiri, sehingga Rasulullah saw memberi gelar “Khairukum” untuk orang yang mau mengambil peran mulia tersebut. Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari alqur’an dan mengajarkannya” (Hr. Bukhari).

Dengan modal tilawah yang sudah bagus, kita berpeluang bisa mengajarkannya kepada orang lain. Setidaknya kepada keluarga dan lingkungan kita, sehingga kita termasuk orang-orang disebut “Khairukum” yang berarti “Sebaik-baik kalian”.

6. Bekal Utama Dakwah

Julukan yang melekat pada diri Mush’ab bin Umair adalah “Muqriul Madinah”, yakni orang yang mengajakan alqur’an di Madinah. Pada tahun 12 setelah kenabian, ia diutus oleh rasulullah saw ke Madinah untuk membina orang-orang yang sudah masuk Islam dan mengembangkan dakwah Islam di sana.

Bekal utamanya adalah alqur’an yang ia hafal, karena ia merupakan sumber utama ajaran Islam yang diperjelas dengan apa yang disabdakan dan dipraktekkan nabi. Hasilnya, masyarakat Madinah banyak yang masuk Islam siap menerima nabi dan kaum muslimin hijrah dari makkah ke Madinah.

Seorang da’i perlu memiliki kwalitas tilawah yang bagus agar bisa lebih dipercaya penyampaiannya dan jika mengimami shalat tidak keluahkan jamaah karena kesalahan-kesalahan yang fatal dalam bacaannya. Rasulullah saw:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang mengimami sauatu kaum adalah orang yang paling menguasai kitab Allah diantara mereka” (Hr. Muslim).

Selamat membaut rencana aksi yang aplikatif untuk membaguskan tilawah dan raihlah semua keuntungan di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *