MUSIM KEBAIKAN (1-10 Dzul-Hijjah) by Arwani Amin

 

10 Hari Pertama Dzul Hijjah

Alhamdulillah, kita mendapat nikmat besar dari Allah, karena pada hari ini kita berada pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan tersendiri dan lebih dicintai Allah dibanding pada hari-hari lainnya.
Rasulullah saw bersabda:

“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ” يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ : “وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ “

“Tidak ada hari-hari yang mana beramal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding hari-hari ini”. Yakni 10 hari pertama bulan Dzul hijjah. Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?”. Beliau menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah. Kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu tiada yang kembali dari jiwa dan hartanya itu (mati syahid)”. (Hr. Abu Dawud dan lainnya; Shahih).

Ini musim kebaikan. Bagaimana kita mensikapi musim kebaikan ini? Hendaknya kita menjadikannya sebagai momentum untuk : 1. Memperbaharui semangat beribadah dan berakhlak mulia. 2. Menyempurnakan kekurangan yang ada. 3. Mengejar ketinggalan yang disebabkan oleh kelalaian kita di masa-masa sebelumnya.

Intensitas Amal Shalih

Di hari-hari yang mulia ini, kita diperintahkan untuk meningkatkan intensitas kita dalam beramal shalih. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Antara lain:

1. Perbanyak Taubat

Beban dosa membuat langkah terseok-seok dalam menyambut seruan Allah. Kita perlu melepaskannya dengan cara memperbanyak taubat. Bagian setan di hati harus kita buang, agar terisi hikmah dan sakinah. Terlebih lagi, bahwa suasana taubat itu disukai oleh Allah. Oleh sebab itu, rasulullah saw senang memperbanyak taubat dan istighfar, hingga seratus kali dalam satu hari. Bukan karena dosa, melainkan karena suasana taubat itu dicintai oleh Allah. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak bertaubat dan mensucikan diri” (Qs. Albaqarah/2; 222).

2. Perbanyak Dzikir

Antara lain kita perbanyak membaca subhanallah, walhamdulillah, wa lailaha illallah, wallahu akbar. Empat kalimat ini merupakan ucapan yang paling dicintai Allah. Ini didasarkan pada sabda rasulullah saw.

إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Sesungguhnya uacapan yang paling disukai Allah ada empat. Yaitu: subhanallah (maha suci Allah, walhamdulillah (segala puji bagi Allah, wa lailaha illallah (tiada tuhan yang haq selain Allah), wallahu akbar (Allah maha besar).” (Hr. Ibnu Hibban. Syu’aib Arnauth menyatakan shahih dg standar Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw memerintahkan kita untuk banyak membacanya di hari-hari mulia ini. Sabdanya:

فَأَكْثِرُوْا فِيهِنَّ مِنَ التَّسْبِيْحِ وَالتَّحْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ

“Maka perbanyaklah di dalamnya: tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allhu akbar) dan tahlil (la ilaha illallah)”. (Hr. Thabrani. Isnadnya jayyid menurut Almundziri)

3. Berperilaku Ihsan

Ihsan meliputi dua hal. Ihsan terhadap Allah dan ihsan terhadap sesama makhluk. Ihsan terhadap Allah adalah beribadah kepadaNya dengan penuh keyakinan seolah-olah kita melihatNya. Atau paling tidak kita menyadari bahwa Allah melihat kita. Kesadaran seperti ini merupakan pendorong yang sangat kuat untuk melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya. Kita jaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid, dan shalat sunnah rawatib yang mengiringinya.

Sedangkan ihsan terhadap sesama makhluk adalah dengan cara berbuat baik kepada mereka. Seperti berlaku jujur, memberi kemudahan, dan menolong yang sedang berada dalam kesulitan. Atau paling tidak, dengan menahan diri agar tidak menimbulkan gangguan, apalagi kezaliman.

Ihsan yang kita lakukan, manfaatnya akan kembali kepada diri kita sendiri. Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ

“Jika kalian berbuat baik (ihsan), maka kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri”. (Qs. Al-isra’ / 17:7).

4, Haji

Haji merupakan rukun Islam yang kelima yang wajib ditunaikan oleh orang yang sudah memiliki kemampuan (istitha’ah). Tentang keutamaan haji dan umrah, Rasulullah saw menjelaskan:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Umrah satu ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa yang terjadi diantara keduanya. Sedangkan haji mabrur, tiada balasan (yang layak) baginya kecuali surga”. (Hr. Bukhari dan Muslim).

Mulai tanggal 8 Dzul Hijjah, tanggal 9 wuquf di Arafah, malamnya bermalam (mabit) di Muzdalifah, tanggal 10 di Mina hingga tanggal 12 atau 13 untuk melontar jumrah.

5. Puasa Arafah

Yaitu berpuasa sunnah pada tanggal 9 Dzul Hijjah. Disebut puasa Arafah karena pada tanggal itu jama’ah haji sedang wuquf di Arafah. Puasa Arafah hanya berlaku untuk orang-orang yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Fadhilah puasa Arafah sangat besar. Ketika rasulullah saw ditanya tentang puasa Arafah. Beliau menjawab:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

“Menghapus (dosa) tahun lalu dan tahun depan” (Hr. Muslim).

Sekiranya kita berpuasa sunnah mulai tanggal 1 sd 9, maka itu pun dibenarkan. Karena puasa termasuk amal shalih, sehingga menjadi utama pula untuk kita kerjakan di hari-hari mulia ini. Kita juga tidak lupa memperbanyak do’a, karena “sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah” (Hr. Tirmidzi).

6. Shalat Idul Adha & Memotong Hewan Kurban

Allah swt berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan potonglah hewan kurban”. (Qs. Alkautsar /108:2)

Sedemikian utamanya shalat dan khutbah Idul Adha, sampai rasulullah saw memerintahkan kaum wanita yang sedang haid untuk tetap hadir. Walaupun mereka tidak mengerjakan shalat ied dan menghindari shaf shalat, namun mereka bisa mendengarkan khutbah, menyaksikan syi’ar dan medapatkan do’a kaum muslimin.

Adapun bagi yang hendak berkorban, hendaknya tidak memotong kuku dan rambutnya mulai terlihat hilal tanggal 1 hingga hewan kurbannya dipotong. Rasulullah saw bersabda: “Jika kalian telah melihat hilal bulan Dzul hijjah, dan seseorang diantara kalian hendak berkurban, maka hendaklah ia menahan diri untuk tidak memotong kuku dan rambutnya hingga ia potong hewan kurbannya” (Hr. Muslim).

Kita sedang berada di musim kebaikan itu, yaitu 10 hari pertama bulan Dzul-hijjah. Berlombalah…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *