AKHLAK PENGHAFAL QUR’AN by Arwani Amin

Akhlak Penghafal Qur’an

Al-qur’an -sebagai firman Allah atau perkataanNya- adalah kitab paling mulia, diturunkan oleh malaikat paling mulia yaitu Jibril, kepada orang paling mulia yaitu Nabi Muhammad saw, diturunkan pertama kalinya di malam yang paling mulia yaitu malam lailatul qodr, di tanah yang paling mulia yaitu tanah suci Makkah, di gua yang paling mulia yaitu gua Hiro, untuk umat yang paling mulia yaitu umat nabi Muhammad saw.

Dengan kemuliaan al-qur’an, maka mulia-lah orang yang di dalam dadanya tersimpan al-qur’an. Allah berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Qs. Al-Ankabut/29: 49).

Konsekwensinya, penghafal qur’an berkewajiban untuk menghiasi diri dengan akhlak mulia. Sehingga al-qur’an tidak hanya menjadi naskah yang tersimpan, melainkan menjadi sikap, gerak dan perilaku. Manuskripnya tersimpan dalam dada, dan ajarannya mewujud dalam praktek nyata.

1. Menjaga Keikhlasan
Sebesar apapun suatu amal, ia tidaklah bernilai apa-apa bila dilakukan tanpa keikhlasan. Walau amal itu mulia, tanpa keikhlasan tidaklah berguna bagi pelakunya. Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai tujuan bahkan satu-satunya tujuan dalam setiap amal. Ingin dipandang Allah, bukan pandangan manusia. Ingin pahala dari Allah, bukan balasan dari manusia.

Menghafal al-qur’an adalah amalan besar dan mulia sekaligus. Maka dari itu, luruskan niat, jangan biarkan melenceng. Disebut sebagai “Orang alim”, “Qori”, atau “al-hafizh” bukanlah tujuan, dan tidak boleh dijadikan tujuan agar tidak termasuk orang yang riya’ dan bangkrut keikhlasan.

Rasulullah saw bersabda:

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ وَعَلَّمَهُ ، وَقَرَأَ القُرآنَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا . قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ العِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ ، وَقَرَأتُ فِيكَ القُرآنَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ : عَالِمٌ ؛ وَقَرَأتَ القُرْآنَ لِيُقَالَ : هُوَ قَارِئٌ ؛ فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ

“…dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta membaca (hafalan) qur’an. Ia dibawa datang lalu dikenalkan nikmat-nikmatnya, ia pun mengenalnya. Allah bertanya: “Untuk apa nimaat-nikmat itu engkau gunakan?”. Ia menjawab: “Aku gunakan untuk mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca (menghafal) qur’an karena-Mu”. Allah berkata: “Engkau berdusta. Engkau mempelajari ilmu supaya disebut sebagai oran alim, dan engkau membaca (menghafal) qur’an supaya disebut sebagai seorang Qoir’ / Hafizh, dan itu telah disebut-sebut”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret hingga dilemparkan ke dalam nerraka” (Hr. Muslim).

Bagaimana kalau ia melakukan amal dengan ikhlas, lalu orang-orang menyanjungnya?. Untuk menjawabnya, Abu Dzarr ra meriwayatkan bahwa rasulullah saw ditanya: “Beritahukanlah kepadaku tentang orang yang melakukan amal kebaikan, lalu orang-orang memujinya atas amal tersebut?’ Beliau saw menjawab:

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى المُؤْمِنِ

“Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan” (Hr. Muslim). Yakni, sebagai pertanda bahwa Allah ridha dan menyukainya, kemudian membuat orang-orang suka kepadanya.

2. Berakhlak Qur’ani
Ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak nabi Muhammad saw, ia menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlaknya adalah al-qur’an” (Hr. Ahmad; Shahih). Sosok beliau laksana al-qur’an berjalan.

Siapa yang menjadikan qur’an sebagai akhlaknya, pasti ia berakhlak mulia. Alqur’an mengajarkan keadilan, ia berlaku adil. Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (Qs. Al-Maidah/5: 8).

Alqur’an mengajarkan ukhuwah islamiyah atau persaudaraan sesama muslim, maka ia pantang membenci sesama, pantang melemparkan tuduhan-tuduhan palsu, dan pantang memberi label-label negatif. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (Qs. Al-Hujurat/49: 10).

وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

“dan janganlah kalian saling memanggil dengan julukan yang buruk” (Qs. Al-hujurat/49: 11).

Begitulah seterusnya, kemuliaan akhlak yang disebutkan di dalam al-qur’an menjadi keperibadian penghafal qur’an, dan menjadi sekap perilaku yang menyatu dalam kehidupannya.

3. Menjaga Hafalannya
Alqur’an yang kita hafal, atau setidaknya surat-surat yang kita hafal akan semakin kokoh di dalam hati apabila kita sering membaca dan mengulang-ulangnya. Sebaliknya, hafalan akan cepat menguap dan hilang dari ingatan bila tidak pernah atau jarang diulang.

Tentang hal ini, rasulullah saw telah mengingatkan:

تعاهدوا هَذَا القُرْآنَ ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإبلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah alqur’an ini. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh ia (qur’an) lebih mudah lepas dibanding onta dalam ikatannya” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Diantara para sahabat ra ada yang mengkhatamkan qur’an setiap pekan. Antara lain Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab. Ada pula yang lebih dan kurang dari satu pekan. Intinya, tidak lupa membaca dan mengulang hafalan alqur’an baik di waktu sianag maupun malam, agar tidak termasuk orang-orang yang tidak mengacuhkannya.

4. Aktif Mengajarkannya

Mengajarkan qur’an merupakan tugas utama yang diwariskan oleh baginda nabi kita Muhammad saw. Beliau menerima wahyu beberapa ayat dari surat al-‘alaq, kemudian beliau ajarkan kepada umatnya. Turun surat Al-Muddatsir, lalu beliau ajarkan, surat Al-Muzzammil dan seterusnya hingga ayat terakhir yang diwahyukan, yaitu Qs. Almaidah/5: 3, dan Qs. Al-Baqarah/2: 281. Tak ada satupun ayat yang beliau sembunyikan.

Tugas utama tersebut, Allah terangkan dalam firmanNya:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah (Allah)yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al-Jum’ah/62: 2).

Mendidik generasi yang akrab dngan al-qur’an menjadi kewajiban umat Islam. Untuk mewujudkannya, tentu diperlukan sumber daya. Baik sember daya manusia maupun sarana dan prasarana. Terlebih di zaman yang kompleksitas bidang dan urusannya semakin banyak, dan semakin diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya. Di sinilah teori fardhu kifayah berlaku. Dimana setiap orang berkewajiban menunaikan fardhu kifayah di bidangnya, sehingga terjadi sinergi saling back up dalam kebajikan.

Dalam konteks ini, Imam Bukhari dalam shahihnya menyebutkan pendapat Al-Hakam yang mengatakan:

لَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا كَرِهَ أَجْرَ المُعَلِّمِ

“Saya tidak pernah mendengar ada seseorang yang tidak memperkenankan upah untuk pengajar”. (Shahih Bukhari).

5. Tidak Berhenti Belajar

Hafal al-qur’an bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebagai pembuka terhadap ilmu-ilmu berikutnya. Bacaannya dari waktu ke waktu perlu semakin dibaguskan, baik dalam hal dan tajwidnya maupun dalam suara dan lagunya. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Siapa yang tidak membaguskan suara bacaan qur’an maka ia bukan dari kalangan kami” (Hr. Abu Dawud; Isnad Jayyid).

Kelancarannya juga perlu ditingkatkan, karena hafalan yang lancar akan sangat membantu kekhusyu’an shalat, karena pikiran lebih terfokus untuk merenungkan maknanya, dan hati lebih penuh dalam menikmati sentuhan dan suasanya. Berbeda dengan hafalan yang sebentar-sebentar terputus karena terlupa. Tentu suasana khusyu’ akan terganggu.

Belum lagi pemehaman terhadap kandungannya. Sekiranya kita curahkan seluruh umur kita untuk menguasai seluruh kandungan al-qur’an, kita semakin sadar bahwa keluasan ilmunya melebihi luasanya lautan yang tak kunjung tampak tepiannya. Maka dari itu, kita tidak boleh berhenti berlajar untuk terus mengkaji ayat-ayatnya dan memungut mutiara-mutiara indanya.

Allah swt berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka mempelajari kandungan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapat pelajaran” (Qs. Shad/38: 29).

Inilah Abdulullah bin Mas’ud ra. Semangatnya dalam mengkaji dan mendalami qur’an bisa kita lihat dari uapannya. Ia mengatakan: “Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, tidak ada satupun surat dari kitab Allah (qur’an) melainkan aku mengetahui dimana diturunkan. Dan tidak ada satupun ayat qur’an yang diturunkan melainkan aku mengetahui dalam hal apa diturunkan. Kalau aku mengetahui ada orang yang lebih tahu tentang kitab Allah dibanding diriku, dan bisa dicapai dengan kendaraan onta, niscaya saya menempuh perjalanannya” (Syarah Shahih Bukhari, Ibnu Batthal).

6. Ada Nilai Lebih

Para penghafal hidup di tengah masyarakatnya dan bermuamalah sehari-sehari bersama mereka. Berbaur tapi tidak luntur. Berinteraksi tapi tidak kehilangan jati diri. Ibarat ikan hidup di laut, ia tidak menjadi asin oleh asinnya air.

Ada nilai lebih yang menjadi keistimewaanya seperti yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh:

حَامِلُ الْقُرْآنِ حَامِلُ رَايَةِ الإِسْلامِ ، لا يَنْبَغِي لَهُ يَلْهُو مَعَ مَنْ يَلْهُو ، وَلا يَسْهُو مَعَ مَنْ يَسْهُو، وَلا أَنْ يَلْغُو مَعَ مَنْ يَلْغُو، تَعْظِيْمًا لِحَقِّ الْقُرْآَنِ

“Penghafal qur’an adalah pemanggul bendera Islam. Tidak patut ia berbuat sia-sia bersama orang yang berbuat sia-sia. Tidak patut ia lalai bersama orang yang lalai. Dan tidak patut ia berbuat batil bersama pelaku kebatilan, karena ia mengagungkan hak al-qur’an” (Attibyan Fi adabi Hamalatil-Qur’an, An-Nawawi).

Jagalah akhlak qur’ani. Kalau tidak dimotori oleh penghafal Qur’an, lalu siapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *