Selamat Menjadi Kaya

  • Nadi Kehidupan

Setiap hari, kita menikmati kekayaan. Air yang kita minum, hidangan yang kita makan, rumah tempat kita berteduh dan kendaraan yang kita gunakan sebagai alat transportasi adalah beberapa contoh kekayaan yang kita nikmati kita butuhkan sehari-hari. Harta adalah nadi kehidupan. Tanpanya, kehidupan menjadi lumpuh.

Tidaklah mengherankan kalau Allah swt menyebut harta sebagai “Qiyaman” atau pokok kehidupan. Karena tegaknya kehidupan membutuhkan adanya harta kekayaan. Allah swt berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا

“dan janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang dittipkan di tangan) kalian yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” (Qs. An-nisa/4: 5). Harta wajib dijaga. Belum boleh diserahkannya harta kepada anak atau orang yang belum cakap mengelolanya adalah dalam rangka melindungi hak miliknya agar tidak terhambur percuma.

  • Harta Terbaik

Nilai atau “value” suatu harta dipengaruhi oleh cara mendapatkannya dan cara penggunaannya. Cara mendapatkan yang benar akan menghasilkan harta yang halal. Itulah harta yang baik. Bukan harta haram. Sedangkan cara penggunaan yang benar akan menghasilkan manfaat besar dalam membangun peradaban umat manusia, tidak menimbulkan kerusakan dan madhorot. Harta yang halal di tangan orang yang shalih adalah sebaik-baik harta.

Rasulullah saw bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta yang baik adalah yang dimiliki oleh orang yang shalih” (Hr. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod; Shahih).

Di tangan orang yang shalih, harta memberi manfaat kepada keluarga dan sanak familinya. Melalui tangan orang yang shalih, harta menjadi modal pemberdayaan umat dan penopang perjuangan di jalan Allah. Dengan hartanya, sarana ibadah dan pendidikan bisa dibangun, para pengungsi bisa diatasi, bangsa terjajah bisa memperkuat pertahanan untuk memerdekakan diri dan membebaskan masjidil-Aqsha Palestina dari cengkeraman Yahudi. “dan berjihadlah dengan harta kalian dan jiwa kalian di jalan Allah” (Qs. At-taubah/9: 41).

  • Peran Para Aghniya

Dulu maupun sekarang, di setiap zaman, selalu ada orang-orang kaya di tengah kaumnya. Yang membedakan adalah bagaimana kekayaan itu diperoleh? Lalu untuk apa kekayaan itu dibelanjakan?. Untuk itu, kita ingin mengenal para aghniya (orang-orang kaya) dari generasi terbaik umat ini, yaitu generasi para sahabat nabi , radhiyallahu ‘anhum.

Boleh-lah kita sebut saja beberapa nama mereka sebagai contoh.

  1. Abu Bakar Siddiq

Abu Bakr dikenal sebagai pedagang yang sukses. Ketika masuk Islam, ia memiliki 40.000 dinar. Satu dinar sama dengan 4,25 gram emas. Dengan hartanya, banyak budak yang ia bebaskan dari penyiksaan tuannya. Mengapa disiksa? Apa dosa mereka? Dosanya adalah mereka memeluk Islam. Itulah dosa menurut para pengikut kebatilan.

Bahkan diantara budak-budak tersebut sudah ada yang dibunuh dengan cara yang sangat keji. Yaitu Sumayyah dan suaminya, Yasir. Cobaan mereka hadapi dengan tetap istiqomah dalam iman. Hal yang sama juga pernah dialami umat terdahulu seperti yang disebutkan dalam al-qur’an “dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang beriman itu melainkan karena keimanannya kepada Allah yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji” (Qs. Al-Buruj/85: 8)

Terhadap kejahatan kemanusiaan seperti itu, apakah cukup disikapi dengan sekedar membaca beritanya lalu berucap “Alhamdulillah kita aman-aman saja?”. Tentu bukan macam itu sikap seorang muslim. Bukankah sesama muslim itu saudara?. Abu Bakr langsung mengambil tindakan, langsung action, tidak berdiam diri. Ia merdekakan Bilal, Amir bin Fuhairoh, Zinniroh, Nahdiyah dan putrinya, jariyah bani Muammil, dan Ummu Ubais, berapapun harga tebusannya, ia bayar. Allahu Akbar.

Itu baru di awal-awal dakwah Islam di Makkah. Belum lagi perannya setelah hijrah, terlebih setelah kemenangan demi kemenenangan dan semakin luasnya wilayah Islam. Pada waktu perang Tabuk di tahun 9 H, ia menginfakkan seluruh hartanya untuk perbekalan pasukan. Ia tidak serta merta menjadi miskin karena infaknya, karena masih ada Allah dan rasulNya. Itu lebih dari cukup baginya.

Sedemikiaan rupa besarnya manfaat harta Abu Bakr, hingga ia memperoleh sanjungan rasulullah saw melalui sabdanya:

مَا نَفَعَنِيْ مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِيْ مَالُ أَبِيْ بَكْرٍ

“Tidak ada harta yang lebih bermanfaat bagiku sebagaimana manfaat harta Abu Bakr”. Abu Bakr pun menangis mendengarnya dan berkata “Ya rasulallah, bukankah aku dan hartaku adalah milikmu juga”.(Hr. Ibnu Majah; Shahih).

2. Usman bin Affan

Kekayaannya senilai 30.000.000 dirham perak, 150.000 dinar emas, disamping yang ia sedekahkan senilai 200.000 dinar. Ketika para sahabat di Madinah harus membeli air tawar dari Bi’ar Romah (sumur Romah) milik Yahudi, maka rasulullah saw menganjurkan orang yang mampu untuk membeli sumber air tersebut dari tangan Yahudi. Beliau bersabda:

مَنْ يَشْتَرِيْ بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلاَءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membeli sumur Romah dan menjadikan timbanya bersama timba kaum muslimin, maka ia mendapatkan yang lebih baik darinya di surga” (Hr. Tirmidzi; Shahih).

Usman pun membelinya dan mewakafkannya untuk umat. Karena sudah ia wakafkan, maka timbanya sama dengan timba lainnya, atau haknya untuk mengambil air dari sumur tersebut adalah sama dengan hak umat Islam pada umumnya, tidak minta diistimewakan walaupun sebagai waqif (orang yang berwakaf). Setelah itu, ia pun menggali sumur lebih dalam agar semakin banyak sumbernya dan lebih besar manfaatnya untuk umat. Ia berwakaf dan mengeluarkan biaya untuk mengoptimalkannya.

Ketika kondisi ekonomi sedang sulit, sedangkan nabi Muhammad saw harus menyiapkan pasukan besar menuju Tabuk untuk mencegah serangan dari Romawi, maka beliau memobilisir seluruh kekuatan kaum muslimin, baik personil maupun perlengkapannya. Para sahabat pun berlomba dengan harta apa saja yang mereka punya. Usman bin Affan berinfak 950 onta ditambah 50 kuda hingga genap menjadi 1000.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ

“Siapa yang mempersenjatai jaisyal’usroh maka ia mendapatkan surga” (Hr. Bukhari). Secara harfiah, jaisyal’usroh berarti pasukan dalam kondisi sulit. Yang dimaksud disini adalah pasukan dalam perang Tabuk.

Sampai sekarang masih ada kekayaannya, baik berupa kebun kurma yang dikelola di bawah kementrian pertanian pemerintah Arab Saudi, rekening di bank atas nama Usman bin Afdan, dan hotel bintang lima di Madinah bernama hotel Usman bin Affan. Subhanallah…! Amal jariayah yang terus mengalirkan pahala. Itulah kekayaan di tangan orang shalih.

3. Abdurrahman bin Auf

Saat Abdurrahman bin Auf berhijrah dari Makkah ke Madinah, kekayaannya masil zero, alias nol. Walau begitu, ketika Sa’d bin Rabi’ menawarkan untuk membagikan separoh hartanya kepadanya, ia tidak berkenan menerima. Ia hanya minta ditunjukkan pasar. Sa’d bin Rabi’ adalah seorang sahabat Anshar yang telah dipersaudarakan oleh rasulullah saw dengan Abdurrahman bin Auf. Dari perdagangan hari pertama di pasar, ia pulang membawa makanan yang bisa mencukupi dirinya. Tak lama kemudian, iapun menikah dengan mahar emas sebesar biji kurma.

Sukses dalam perdagangan, kekayaannya menembus angka 3.200.000 dinar. Ia juga sukses dalam bersedekah. Antara lain: a/ Bersedekah 40.000 dinar hasil penjualan tanah. b/ berwasiat agar setiap orang yang ikut dalam perang Badar diberi 400 dinar. Saat itu ada 100 orang yang masih hidup, sehingga total yang diwasiatkan untuk mereka ada 40.000 dinar. c/ Berwasiat 1000 kuda untuk jihad fi sabilillah. d/ Berwasiat satu kebun senilai 100.000 dinar untuk istri-istri rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda:

سَقَى اللَّهُ ابْنَ عَوْفٍ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ

“Allah memberikan minuman kepada Abdurrahman bin Auf dari minuman salsabil di surga” (Hr. Ahmad; Hasan).

Ketiga sahabat nabi di atas telah memerankan nikmat yang Allah berikan kepada mereka sebagaimana mestinya. Yaitu memberi manfaat besar dalam perjuangan Islam dan membantu sesama. Mereka telah dipilih oleh Allah menjadi pintu-pintu kebaikan bagi umat manusia. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَقْوَامًا اخْتَصَّهُمْ بِالنِّعَمِ لِمَنَافِعِ الْعِبَادِ، وَيُقِرُّهَا فِيهِمْ مَا بَذَلُوهَا، فَإِذَا مَنَعُوهَا نَزَعَهَا عَنْهُمْ وَحَوَّلَهَا إِلَى غَيْرِهِمْ

“Sesungguhnya ada kaum milik Allah yang Ia istimewakan dengan berbagai nikmat untuk memberi manfaat pada sesama. Ia tetapkan nikmat itu pada mereka sepanjang mereka mau memberikan manfaat tersebut. Jika mereka menahannya, maka Ia ambil nikmat tersebut dari mereka, dan mengalihkannya kepada kaum yang lain” (Hr. Baihaqi; Hasan Lighairih).

  • Perintah Bekerja

Sungguh. Siapa orangnya yang tidak iri kepada mereka? Bukan iri dengki. Itu merusak. Melainkan iri positif dan konstruktif, yang berarti cinta kepada mereka dan ingin berperan seperti mereka agar kehidupan berlimpah barokah dan kebahagiaan. Untuk itu, bismillah… dan nyatakan “Aku berniat dan bertekad menjadi kaya karena Allah ta’ala”.

Mulailah bekerja dengan ihsan, terutama berbisnis, karena rasulullah saw bersabda:

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِّزْقِ فِي التِّجَارَةِ

“Sembilan persepuluh dari rizki itu ada dalam perdagangan” (Hr.Ibnu Abi addun-ya; Mursal)

  • Doa Kaya

Tekad untuk menjadi kaya harus kita affirmasi dengan do’a. Rasulullah saw mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِواكَ

“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki yang halal dari-Mu, terhindar dari yang haram. Dan jadikan aku kaya dengan anugerahMu, tidak tergantung kepada selain dariMu” (Hr. Tirmidzi; Hasan).

Selamat Menjadi Kaya….!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *