Memilih Setia

MEMILIH SETIA

Ini bukan judul lagu Fatin Sidqia, melainkan prasasti keteguhan jiwa. Kalau Anda hidup di tengah komunitas seiman seperjuangan, tiba-tiba terbit larangan yang tidak memperkenankan siapapun berbicara dengan Anda. Yang dekat maupun yang jauh, semuanya mendiamkan Anda. Apa yang akan Anda lakukan?

Itulah yang dialami Ka’ab bin Malik. Pihak yang mengeluarkan larangan adalah nabi Muhammad saw. Bukan untuk sehari dua hari. Bukan pula sepekan dua pekan. Melainkan hingga berganti bulan, tak kunjung ada pencabutan larangan.

Pihak musuh mencermati apa yang sedang terjadi dan tidak melewatkan kesempatan. Lalu Raja Ghassan di bawah kekuasaan Romawi berkirim surat kepada Ka’ab, yang isinya “Anda tercipta bukan untuk dihinakan. Silakan bergabung dengan kami, pasti kami muliakan”. Setelah membacanya, Ka’ab bergumam “ni juga ujian”, lalu ia bakar surat ke dalam tungku. Ya, Ia memilih setia.

Ini sungguh ujian berat, hingga bumi yang luas-pun terasa sempit baginya. Apa kesalahanya? Ia tahu apa kesalahannya, dan ia akui secara jujur di hadapan nabi. Tidak memgelak dan tidak membuat-buat alasan, walaupun kalau mau, ia adalah orang yang pandai meyakinkan dan berargumentasi. Kesalahannya adalah ia tidak turut serta dalam perang Tabuk (th 9 H) dimana nabi memobilisir seluruh kekuatan.

Selain dia, ada dua sahabat lainnya yang bernasib sama, dengan sebab yang sama pula. Mereka juga memilih setia. Nabi bukan tak mencintai, dan para sahabat yang patuh mendiamkan bukan karena benci. Melainkan itu terapi, pembersih mutiara dari lumpur yang mengotori, dan sekaligus pembukti soliditas jamaah di bawah kepemimpinan nabi.

Setelah genap 50 hari, barulah turun pencabutan larangan, langsung melalui wahyu kepada nabi. Yaitu Qs. Attaubah ayat 118. Allah menerima taubat mereka melalui firmanNya. Allahu Akbar. Itulah buah kesetiaan. Allah memuliakan mereka.

What’s next? Pesan pertama setelah diterimanya taubat adalah menjaga kebersamaan. Dengan siapa? “Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur”(Qs. Attaubah: 119). Bersama mereka, iman dan taqwa kita akan terjaga. (Lihat Kitab Riyadhus-Shalihin, Bab Taubat, Hadits 21).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *