Kehangatan

KEHANGATAN

Peristiwa itu terjadi 41 tahun yang lalu di kota Kudus Jawa Tengah. Untuk pertama kalinya, usai shalat shubuh di pesantren Ndamaran, saya bersama teman-teman sebaya berlari menuju tempat dimana mbah KH. M. Arwani Amin mengajar Alquran, baik kelas tahfizh maupun kelas tahsin.

Tibalah kami di pesntren Yanbu’ul Qur’an dimana beliau mengajar. Para santri lainnya sdh duduk berbaris melingkar menunggu giliran baca. Ketika tiba giiran saya, dan posisi sudah berada di hadapan beliau, tiba-tiba beliau menepukkan tangannya berkali-kali di paha dan lutut saya. Adakah yang salah?

Saya menoleh ke para santri lainnya, ooo…! Ternyata posisi duduk mereka seperti posisi duduk dalam tahiyat awal, sedangkan saya dalam posisi bersila. Setelah memperpaiki posisi duduk, mulailah saya membaca alfatihah dilanjut bacaan shalat hngga salam.

Ada skala prioritas dengan mendahulukan yg wajib, yaitu bacaan salat yg menjadi kewajiban harian, ada adab dan tawadhu’ dg posisi duduk tahiyat, ada kedekatan antara kiyai dengan santrinya, dan ada KEHANGATAN melalui tangan yang beiau tepukkan di kaki santrinya yang menanamkan kepekaan untuk memperbaiki sikap diri.

Kini, beliau telah lama meningalkan kita, tapi kehatangan tangannya masih segar serasa baru kemarin subuh. Semoga Allah menambahkan rahmatNya kepadmu, mbah KH. M. Arwani Amin, dan juga kepada orang yang memberiku nama meniru namamu, ayahanda K. Supar.

Foto Arwani Amin Supar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *