Biar Tetap Lapang

BIAR TETAP LAPANG

Sosmed (sosial media) kita, kadang-kadang dijadikan lalu lintas informasi tentang keburukan teman-teman kita. Ada yang cerita soal kelakuan, kubu-kubuan, hingga soal perseteruan. Apakah stock kebaikan sudah habis dan tidak ada lagi yang bisa diceritakan?

Izinkan saya bertanya: Apakah Anda senang mendengar informasi macam itu? Apakah Anda senang membacanya? Dan apakah Anda senang membicarakannya? Kalau jawbannya “Ya”, maka ketahuilah bahwa secara tidak sadar Anda sedang berjoget bersama alunan musik “gunjingan”, sambil menyantap bistik “mayat saudaramu”, dan menenggak khamr “lupa diri”.

Astaghfirullah….!

Cerita macam itu bisa mempengaruhi hati kita. Jadi muncul buruk sangka, jadi tidak suka, dihinggapi benci, dan dada menjadi sesak dan sempit.

Pantas-lah kalau nabi saw pernah berpesan kepada para sahabat:

لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أحدٍ شَيْئًا، فَإِنِّيْ أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيْمُ الصَّدْرِ

“Janganlah seorang-pun diantara para sahabatku menyampaikan keburukan seseorang kepadaku. Karena aku sungguh senang keluar ke tengah kalian dalam keadaan lapang dada” (Hr. Ahmad, 3759. Ahamd Syakir berkata: Isnadnya Hasan).

Beliau sangat konsen menjaga kebersihan hati dan kelapangan dadanya. Karenanya, beliau memberi peringatan agar jangan sampai ada yang menyampaikan hal-hal yang bisa menebarkan bibit ketidak-sukaan dan kebencian, agar dada tetap lapang. Lapang terhadap para sahabatnya.

Ya, lapang dada itu “sesuatu banget”. Dengan lapang dada, pandangan mata menjadi teduh, senyum berkembang lepas, komunikasi menjadi lancar, dan berbagai urusan menjadi mudah.

Mau? Get it please…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *