I LOVE MASJID

I Love Masjid

Bukan tanpa alasan, kita mencintai masjid. Bukan tanpa sebab, hati ini tertambat. Kedudukannya mulia, dan keberadaannya didamba. Ketika baginda nabi Muhammad saw tiba di Madinah dan singgah di Quba, yang mula pertama dibangunnya adalah masjid. Ya, masjid Quba. Beberapa hari berikutnya, saat telah berada di jantung kota Madinah, beliau pun langsung membangun masjid nabawi, sebelum membangun rumah tinggalnya sendiri.

Kita bisa merasakan alangkah sedihnya, saat berada di negara yang tak terlihat masjidnya dan tidak terdengar adzannya. Panggilan “Hayya ‘alas-shalah” menjadi sedemikian rupa kita rindukan. Alhamdulillah, kita tinggal tak jauh dari masjid. Suara adzan-pun slilih berganti bersaut-sautan. Kita menyambutnya dengan langkah-langkah pahala yang kita ayaunkan, bersama keluarga dan handai tolan. Para pecinta masjid sungguh berbahagia nian.

Logika Cinta

Sejak kapan cinta perlu logika? Sejak kita menyadari arti dua kaliamah syahadat bahwa kita mencintai Allah dan rasulNya. Konsekuensinya, kita-pun mencintai siapa dan apa yang dicintai Allah dan rasulNya. Jadi, bukan cinta buta. Melainkan cinta dengan sepenuh kasadaran akal yang bertahta di dalam relung singgasana jiwa, dengan tolok ukur yang jelas.

Logoka cinta masjid kita bangun di atas dalil-dalil berikut:

1. Masjid Area Terbaik

Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ الْبِقَاعِ اَلْمَسَاجِدُ

“Sebaik-baik area adalah masjid-masjid” (Hr. Ibnu Hibban: Shahih). Label “terbaik” yang melekat pada tanah dimana masjid dibangun merupakan magnet yang menarik hati- orang-orang beriman dan menggerakkan kaki mereka untuk menghampirinya. Terlebih tiga masjid termulia, yaitu secara berurutan: masjidil-harom di Makkah, masjid nabawi di Madinah, dan masjidil-aqsha di Palestina.

2. Sertifikat Iman untuk Pemakmur Masjid

Sertifikat iman berfungsi sebagai bukti bahwa iman seseorang itu benar, bukan asal di bibir saja. Karena, hanya orang yang benar imannya yang bisa masuk surga di akhirat nanti. Rasulullah saw bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ

“Tidaklah masuk surga kecuali orang yang beriman” (Hr. Bukhari dan Muslim).
Lalu siapa yang bisa memberikan sertifikat iman? Dan bagaimana cara mendapatkannya? Jawabnya, Allah swt telah berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Tidak lain yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir….” (Qs. At-taubah/9: 18). Itulah bunyi sertifikatnya. Jadi, siapa yang memakmurkan masjid Allah, ia adalah orang beriman. Bukankah memakmurkan masjid merupakan indikasi cinta masjid?. Untuk itu, jadilah pemakmur masjid dengan penuh cinta, dan pastikan nama Anda masuk dalam sertifikat tersebut.

3. Pecinta Masjid Aman di Akhirat

Rasulullah saw menjelaskan bahwa ada tujuh golongan yang dinaungi Allah di akhirat, pada hari tiada naungan selain naunganNya. Salah satu dari tujuh golongan tersebut adalah:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ

“dan orang yang hatinya terikat dengan masjid” (Hr. Bukhari dan Muslim). Maksudnya adalah bahwa ia “sangat menyintainya dan menjaga shalat berjamaah di dalamnya” sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi.

Bukti Cinta

Cinta masjid itu bukan hanya ucapan di bibir saja, melainkan perlu bukti nyata. Mari kita lihat tanda-tanda berikut ini, kemudian kita tengok dan instrospeksi diri agar cinta kita bersambut bukti yang terpatri.

1. Membangun Masjid

Banyak kita jumpai orang-orang yang membiayai pembangunan masjid sepenuhnya dari kantongnya sendiri. Sejak dari pengadaan tanah hingga finishing dan siap pakai, lengkap dengan berbagai sarana penunjangnya. Kita ucapkan terimakasih kepada mereka dan semoga Allah memberikan kepada mereka balasan terbaik di dunia dan akhirat.
Kita bisa membangunnya pula secara bersama-sama. Masing-masing berkontribusi dengan rizki yang Allah anugerahkan kepadanya. Mungkin banyak, mungkin pula sedikit. Kita pantang meremehkan kebaikan yang bisa kita lakukan, sekecil apapun. Alangkah mulianya membangun masjid karena Allah, dan untuk beribadah kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى الله لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Siapa membangun masjid karena mengharap keridhaan Allah, maka Allah bangunkan rumah untuknya di surga” (Hr. Muslim).

2. Shalat Berjamaah

Shalat lima waktu dengan berjamaah di masjid itu diperintahkan dengan sangat oleh rasulullah saw kepada kaum laki-laki, hingga sebagian ulama ada yang menilainya fardhu ‘ain. Sedangkan untuk kaum perempuan, kita dilarang melarangnya ke masjid. Artinya boleh di rumah, boleh di masjid, sesuai kelonggaran dan mana yang lebih maslahat.

Shalat berjamaah di masjid merupakan jalan hidayah agar tidak tersesat dan resep untuk meraih husnul-khatimah. Abdullah bin Mas’ud ra mengatakan:

مَنْ سَرَّهُ أنْ يَلْقَى اللهَ تَعَالَى غداً مُسْلِماً ، فَلْيُحَافِظْ عَلَى هؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ ، فَإنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكم – صلى الله عليه وسلم – سُنَنَ الهُدَى ، وَإنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الهُدَى ، وَلَوْ أنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ في بُيُوتِكم كَمَا يُصَلِّي هذا المُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّة نَبِيِّكُم لَضَلَلْتُمْ

“Siapa yang ingin berjumpa Allah ta’ala besok dalam keadaan Islam, maka jagalah shalat lima waktu dimana adzan dikumandangkan (yaitu di masjid). Karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sunnah petunjuk untuk nabi kalian saw. Dan sesungguhnya shalat berjamaah di masjid itu termasuk sunnah petunjuk. Kalau sekiranya kalian menunaikan di rumah kalian seperti orang yang teledor itu menunaikan shalat di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian. Dan kalau kalaian meninggalkan sunnah nabi kalian, pasti kalian tersesat” {R. Muslim).

3. Menjaga Kebersihan

Setelah masjid terbangun dan bisa digunakan untuk shalat berjamaah, hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah perawatannya, agar masjid dan lingkungannya selalu bersih dan aromanya harum. Pengurus berkewajiban mewujudkannya dengan melibatkan peran serta para jamaah dan masyarakat sekitar.

Di dalam hadits disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِى الدُّوَرِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ

“Dari Aisyah ra berkata: Rasulullah saw memerintahkan pembangunan masjid di perkampungan-perkampungan dan memerintahkan agar dibersihkan dan diberi wewangian” (Hr. Abu Dawud; Shahih).

3. Menghidupkan Kajian

Masjid merupakan pusat pembinaan dan pencerdasan umat. Melalui masjid nabawi, rasulullah saw membina para sahabatnya untuk memimpin dan mengentaskan umat manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, dari kebodohan menuju ilmu, dan dari keterbelakangan menuju kemajuan. Oleh sebab itu, kajian keilmuan di masjid harus digalakkan, bermula dari alquran yang banyak memberikan isyarat-isyarat ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Uqbah bin Amir mengatakan: Rasulullah saw keluar ke tengah kami yang sedang berada di serambi masjid kemudian bertanya “Siapakah diantara kalian yang suka kalau setiap pagi pergi menuju lembah Bathan atau lembah Aqiq dan mendapatkan dua onta besar tanpa dosa dan pemutusan silaturahim?”. Kami menjawab “Ya rasulallah, kami menyukai itu”. Kemudian beliau bersabda:

أَفَلَا يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَيَتَعَلَّمُ أَوْ يَقْرَأُ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ – اللهِ عَزَّ وَجَلَّ – خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ،وَثَلَاثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الْإِبِلِ

“Tidakkah seseorang diantara kalian pergi ke masjid, lalu mempelajari atau membaca dua ayat dari kitab Allah -‘azza wajalla-? Itu lebih baik baginya dibanding dua onta. Tiga ayat lebih baik baginya dibanding tiga onta. Empat ayat lebih baik baginya dibanding empat onta. Dan sebanyak jumlah ayat lebih baik baginya dibanding sejumlah onta” (Hr. Muslim).

4. Akrab dengan Kehidupan Masjid

Kita perlu mengkondisikan diri dan keluarga kita agar akrab dengan dengan kehidupan masjid. Yaitu dengan mengikuti dan mendukung kegiatan-kegiatannya. Sehingga ketika berada di masjid serasa di rumah sendiri.

Salman Al-farisi dan Abu Darda’ adalah dua orang sahabat yang telah dipersaudarakan karena Allah oleh rasulullah saw pada awal kedatangannya di Madinah. Ukhuwah itu terjalin semakin kuat seiring perjalanan waktu. Salman pernah berkirim surat kepada Abu Darda yang isinya:

يَا أَخِي عَلَيْكَ بِالْمَسْجِدِ فَالْزَمْهُ، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، يَقُولُ: الْمَسْجِدُ بَيْتُ كُلِّ تَقِيٍّ

“Wahai saudaraku, akrablah dengan masjid karena sesungguhnya aku pernah mendengar rasulullah saw bersabda: “Masjid itu rumah setiap orang yang bertaqwa”. (Hr. Bl-Bazzar;Hasan).
Serasa at home. Begitulah hubungan orang bertaqwa dengan masjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *