Saatnya Menikah

Ketika hendak menikah, teman-temannya mempertanyakan “Apa engkau sudah mampu menikah?”. Jawabannya sungguh di luar dugaan, “Saya sudah tidak mampu membujang”. Mereka-pun hendak mengurungnya dengan pertanyaan, “Nanti bagaimana?”. Tapi ia bisa keluar dengan jawaban “Bagaimana nanti-lah”.

Segeralah ia meminta pendapat dosen yang sekaligus murobbinya, “Kalau pada semester ini saya menikah, bagaimana menurut ustadz?”. Jawab dosennya, “Berdasarkan pengalaman riil di lapangan, rata-rata kehidupan orang yang sudah menikah itu lebih mapan, baik secara ekonomi, prestasi maupun manajemen diri”. Benar, Rata-rata mereka yang berkecukupan itu bukan para bujangan. Dalam kamus pernikahan, 1+1 hasilnya bukan 2, melainkan sinergi dua kekuatan yang melebihi kekuatan empat orang atau lebih yang berjalan sendiri-sendiri.

Persoalannya, hanya dalam seni menghadapi tantangan. Tantangan menafkahi anak istri, menyiapkan tempat tinggal dan biaya pendidikan anak menghadapi masa depan. Mau lari tunggang langgang ke belakang atau tetap maju melaju ke hadapan menyibak jalan?. Orang yang pesimis melihatnya sebagai momok yang menakutkan. Sebaliknya, orang yang berjiwa besar memandangnya sebagai peluang yang menjanjikan. Karena ada pahala pada setiap nafkah, “…Hingga makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu” (Hr. Bukhari dan Muslim). Romantis, menyenangkan, plus berpahala.

Jangan membayar kesedihan sebelum jatuh tempo. Maksudnya, kalau apa yang dicemaskan belum terjadi, mengapa harus disedihkan dari sekarang? Mau amat…! Amat saja nggak mau. Kalau perlu bersedih, nanti saja-lah saat benar-benar mengalami kesulitan dalam menafkahi anak istri. Walaupun sebenarnya, hal itu sama sekali bukan alasan kesedihan. Bukankah ketika kemarau semakin panjang, itu pertanda akan segera turun hujan?

Rugi, kalau terlanjur sedih, padahal apa yang dicemaskan ternyata tidak terjadi di kemudian hari. Lebih baik kita songsong kepastian yang dijanjikan rasulullah saw dalam sabdanya:
ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمْ الْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Ada tiga golongan yang pasti ditolong Allah. Budak mukatab yang ingin membayar tebusan kemerdekaannya, orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian, dan mujahid di jalan Allah” (Hr. Nasa’i; Hasan). Langkah kedua, setelah membentuk pribadi muslim, adalah membentuk keluarga muslim. Melangkah-lah…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *