Kemuliaan Penghafal Quran

Kemuliaan Penghafal Qur’an

KH. Arwani Amin, Lc, MHI

Bukan sembarang perkataan. Alqur’an adalah kalamullah, firman Allah atau perkataan Allah. Adakah perkataan yang lebih mulia dan lebih agung dibanding perkataan Allah? Itulah alqur’an, yang diturunkan dengan haq, dan semua isinya adalah haq (kebenaran).

Oleh sebab itu, alqur’an merupakan kitab yang paling kita utamakan. Paling kita utamakan untuk dipelajari, paling kita utamakan untuk dihafalkan, dan paling kita utamakan untuk dipahami, diamalkan dan diperjuangkan. Itulah jalan kemuliaan, dan dari sinilah kemuliaan para penghafal qur’an bermula.

1. Gelar Ahlullah

Penghafal qur’an disebut sebagai Ahlullah atau keluarga Allah. Rasulullah saw bersabda:
أَهْلُ القُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ
“Para ahli qur’an adalah keluarga Allah dan orang-orang dekat-Nya” (Hr. Ahmad dan Ibnu Majah; Shahih).

Dalam kitab Faidhul-Qadir syarh aljami’ as-shaghir, Al-Manawi menerangkan bahwa: “Para penghafal qur’an yang mengamalkannya adalah para kekasih Allah yang dekat denganNya, sebagaimana dekatnya seseorang dengan keluarganya. Mereka diberi gelar Ahlullah sebagai pemuliaan kepada mereka, seperti pemuliaan untuk rumah yang disebut dengan Baitullah / rumah Allah”.

Keluarga adalah orang yang paling kita utamakan dalam kehidupan kita. Kita bekerja keras dan rela bersusah payah demi membahagiakan mereka. Seperti itu perhatian dan kasih sayang kita kepada keluarga. Lalu bagaimana dengan keluarga Allah? Tentu, perhatian dan kasih sayang Allah kepada mereka tak ada tandingannya.

2. Mendapat Prioritas

Rasulullah saw mengajari umatnya agar memberikan prioritas utama kepada penghafal qur’an atau yang lebih banyak hafalan qur’annya. Dalam hal shalat berjama’ah misalnya, yang diprioritaskan menjadi imam adalah orang yang lebih banyak hafalan qur’annya.

Rasulullah saw bersabda:
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً، فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ
“Yang meng-imami suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalan qur’annya diantara mereka. Bila mereka sama dalam hafalannya, maka orang yang paling mengetahui sunnah diantara mereka”. (Hr. Muslim).

Yang kita baca dalam shalat tentulah surat-surat yang kita hafal. Semakin banyak hafalan kita, maka semakin banyak pula pilihan surat dan ayat yang kita baca. Dengan demikian, orang yang paling banyak bacaan qur’annya ialah orang yang paling banyak hafalannya. Dialah yang lebih diutamakan untuk memimpin shalat berjamaah.

Dalam kepemimpinan di tengah masyarakat, penghafal qur’an juga lebih diprioritaskan. Amir bin Watsilah meriwayatkan bahwa Nafi’ bin Abdul-Harits -Gubernur Makkah- menjumpai Umar bin Khattab di Usfan. (Sebagai Khalifah) Umar bertanya “Siapa orang yang engkau tugasi memimpin penduduk lembah / Makkah?”. “Ibnu Abza” jawab Nafi’. “Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar. “Salah seorang mantan budak di tengah kami” jawab Nafi’. “Engkau tunjuk mantan budak sebagai pelaksana tugas Gubernur untuk penduduk Makkah?” tanya Umar. “Sesungguhnya ia adalah penghafal qur’an dan seorang yang alim dalam masalah faraidh” jawab Nafi’.

Umar lalu berkata: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya nabi kalian saw telah bersabda:
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (qur’an), dan merendahkan kaum yang lain dengan kitab ini pula” (Hr. Muslim). Ya, Allah meninggikan derajat orang yang memperjuangkan ajaran qur’an, dan merendahkan orang yang mengabaikannya.

Bahkan setelah kematiannya, penghafal qur’an lebih didahulukan dalam pengurusan jenazahnya. Jabir bin Abdillah ra mengatakan: nabi saw mengumpulkan dua jenazah dari para syhuhada dalam perang Uhud dalam satu kain, kemudian bertanya:
أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ
“Mana diantara mereka yang hafalan qur’annya lebih banyak?”. Ketika ditunjukkan kepada beliau salah satu dari mereka, maka beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke liang lahat” (Hr. Bukhari). Begitulah rasulullah saw memprioritaskan penghafal qur’an di masa hidupnya dan setelah kematiannya. Mulia-lah umat yang mau mengikuti jejak rasulnya.

3. Berlimpah Pahala

Untuk bisa menghafal satu ayat alqur’an, kita perlu memperbaiki bacaanya terlebih dahulu, dengan bimbingan orang yang mahir dan mendengarkan bacaan yang standar. Setelah itu kita baca berulang-ulang hingga lancar. Lalu kita baca lagi berulang-ulang hingga hafal. Dan setelah hafal-pun, kita masih mengulang-ulangnya agar tidak lupa, karena al-qur’an sangat mudah terlupa kalau tidak dijaga dengan cara diulang-ulang.

Seseorang yang hafalan qur’annya bagus dan terjaga dengan baik, ia ditanya oleh teman sekelasnya “Bagaimana cara Anda menjaga hafalan qur’an?”. Ia menjawab dengan satu pertanyaan “Adakah cara untuk menjaganya selain cara mengulang-ulang?”.

Artinya, bahwa penghafal qur’an itu pasti banyak membacanya dan mengulang-ulangnya. Dengan begitu, maka ia memperoleh pahala berlimpah dari Allah. Dengan begitu ia berharap amal baiknya lebih banyak dibanding dosa-dosanya ketika ditimbang di akhirat nanti. Bagaimana tidak berlimpah kalau setiap satu huruf berpahala sepuluh kebaikan?

Rasulullah saw bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ (ألم) حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ لَامٌ حَرْفٌ وَ مِيمٌ حَرْفٌ.
“Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (al-qur’an), maka dengan satu huruf itu ia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipat gandandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak katakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Melainkan alif itu satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”. (Hr. Tirmidzi; Shahih).

4. Memuliakan Penghafal Qur’an termasuk Mengagungkan Allah

Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah, yaitu memuliakan seorang muslim yang telah beruban, penghafal qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak melalaikannya, dan memuliakan pemimpin yang adil” (Hr. Abu Dawud; Shahih).

Berlebih-lebihan itu ciri utama orang-orang Nasrani. Mereka mengagungkan nabi Isa as sampai menyembahnya dan menganggapnya tuhan. Sedangkan sikap melalaikan itu ciri utama orang-orang Yahudi. Mereka melalaikan hak para nabi dan rasul sampai lancang membunuh mereka. Maka dari itu, penghafal qur’an tidak boleh berlebih-lebihan, melampaui batas dan mempersulit yang mudah. Tidak boleh pula menyepelekan dan mengabaikannya. Sikapnya moderat, seimbang dan proporsional.

5. Dimuliakan di Surga

Orang yang sukses adalah orang yang selamat dari siksa api neraka dan masuk ke dalam surga. Semua bentuk kesuksesan yang kita peroleh di dunia hanya akan bernilai jika menjadi sarana yang bisa menghantarkan kita ke surga. Jadi, kalau sukses duniawi justru membuat orang semakin jauh dari Allah dan berlumur maksiat yang menjerumuskannya ke neraka, maka itu adalah kerugian besar dan kehancuran yang tragis..

Allah swt berfirman:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung (sukses)” (Qs. Ali Imran/3: 185).

Allah telah turunkan al-qur’an untuk menuntun kita agar bisa menapaki langkah-langkah yang menghantarkan sukses dunia akhirat. Oleh sebab itu, berikan perhatian yang cukup kepada al-qur’an sesibuk apapun kita. Terlebih jika kita bisa menghafalnya, maka Allah akan berikan mahkota kemulian kepada kita di surga yang dijanjikanNya. Jannatun-na’im, surga penuh nikmat.

Rasulullah saw bersabda:
يَجِيءُ القُرْآنُ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الكَرَامَةِ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ اِرْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اِقْرَأْ وَارْقَ، وَيُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً
“Al-qur’an akan datang pada hari kiamat lalu berkata: “Wahai Tuhanku, berikanlah pakaian indah kepadanya (penghafal qur’an)”. Lalu dipakaikan mahkota kemuliaan kepadanya. Kemudian qur’an berkata “Wahai Tuhanku, berilah tambahan untuknya”. Lalu ia diberi pakaian kemuliaan. Kemudian qur’an berkata “Wahai Tuhanku, ridhailah ia”. Lalu Allah ridha padanya. Kemudian dikatakan padanya “Bacalah…!, dan naiklah-derajat…!”. Ia ditambah kebaikan setiap membaca satu ayat.” (Hr. Tirmidzi; Shahih).

6. Mengangkat Derajat Kedua Orang Tuanya

Sebagai anak, kita senang mmpunyai orang tua yang shalih. Dan sebagai orang tua, kita juga senang mempunyai anak yang shalih. Untuk itu, mari kita bekerja sama dengan baik untuk mewujudkan kedu-duanya. Orang tua yang shalih akan mengangkat derajat anak cucunya (Baca Qs. At-Thur/52: 21). Demikan halnya anak yang shalih, terlebih yang hafal al-qur’an. Ia akan memberi syafaat dan mengangkat derajat kedua orang tuanya.

Rasulullah saw bersabda:
يَجِيءُ القُرْآنُ يَومَ القِيَامَةِ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ أَنَا الَّذِي كُنتُ أُسْهِرُ لَيْلَكَ وَأُظْمِئُ هَوَاجِرَكَ، وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ، وَأَنَا لَكَ الْيَوْمَ مِن وَرَاءِ كُلِّ تَاجِرٍ، فَيُعْطَى المُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالخُلْدَ بِشِمَالِهِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الوَقَارِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَينِ لاَ يُقَوَّمُ لَهُمَا الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، فَيَقُولاَنِ: يَا رَبِّ! أَنَّى لَنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِتَعلِيمِ وَلَدِكُمَا القُرآنَ

“Al-qur’an akan datang pada hari kiamat seperti orang yang pucat. Ia berkata kepada penghafalnya “Apakah Anda mengenalku? Aku adalah yang dulu di dunia membuatmu begadang di malam hari dan kehausan di terik panas siang hari. Sesungguhnya setiap pedagang ada di belakang dagangannya, sedangkan aku pada hari ini di belakang setiap pedagang untuk Anda”. Lalu ia diberi kerajaan di tangan kanannya, dan diberi kekekalan di tangan kirinya, mahkota keanggunan diletakkan di kepalanya, dan dipakaikan dua gaun indah kepada kedua orang tuanya yang dunia seisinya tak bisa menyamai nilainya. Keduanya lalu bertanya: “Wahai Tuhan, darimana ini kami perroleh?”. Dijawab: “Disebabkan anak kalian berdua mengajarkan qur’an”. (Hr. Thabrani; Shahih).
Dalam riwayat lain:
بأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
“Disebabkan anak kalian mengambil / hafal qur’an” (Hr. Ad-Darimi; Isnad Hasan)

6. Nikmat yang diidamkan
Kita boleh bahkan dianjurkan iri kepada orang yang mendapat nikmat yang membahagiakan. Bukan iri dalam pengertian dengki dan benci melihat orang lain mendapat nikmat, lalu berusaha untuk melenyapkannya. Bukan itu. Melainkan iri dalam pengertian senang kepadanya dan senang bisa seperti dia. Pertanyaannya, siapakah orang yang kita patut iri padanya?

Rasulullah saw bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ القُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
“Tidak ada iri kecuali terhadap dua golongan. Yaitu orang yang diberri Allah hafalan qur’an lalu ia membacanya di waktu siang dan malam, dan orang yang Allah beri harta lalu ia menginfakkannya di waktu siang dan malam” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Subhanallah…! Menghafal qur’an Yuk…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *